17 April 2021, 10:02 WIB

Elon Musk Siap Kuasai Bisnis Luar Angkasa, Jeff Bezos Gigit Jari


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

MANDEL NGAN / AFP
 MANDEL NGAN / AFP
Elon Musk (kiri) dengan bisnis luar angkasa SpaceX  mengalahkan pendiri Blue Origin, Jeff Bezos dalam proyek pembangunan pesawat milik NASA.

NASA telah memberikan kontrak kepada perusahaan luar angkasa swasta milik Elon Musk, SpaceX, senilai US$2,9 miliar atau Rp42,1 triliun guna membangun pesawat ruang angkasa untuk menerbangkan astronot ke bulan. Tawaran Musk tersebut mengalahkan pendiri Amazon.com Jeff Bezos, yang telah bermitra dengan Lockheed Martin, Northrop Grumman dan Draper.

Pengumuman NASA menambah prestasi luar biasa bagi Musk yang merupakan salah satu orang terkaya di dunia berkat 22 persen sahamnya di produsen mobil listrik Tesla. Tesla telah menjadi produsen mobil paling berharga di dunia, dengan kapitalisasi pasar US$702 miliar, jauh melampaui raksasa industri otomotif. Musk telah menjadi konglomerat teknologi, meluncurkan dan mengendalikan perusahaan yang mengejar penerbangan luar angkasa, mobil listrik, implan saraf, dan terowongan bawah tanah.

Keputusan NASA ini menjadi kemunduran bagi Bezos, penggemar antariksa seumur hidup dan salah satu orang terkaya di dunia, yang sekarang lebih fokus pada usaha antariksa setelah mengumumkan pengunduran dirinya sebagai CEO Amazon.

Kontrak tersebut dipandang oleh Bezos dan eksekutif lainnya sebagai hal penting bagi Blue Origin untuk memantapkan dirinya sebagai mitra yang diinginkan untuk NASA, dan juga menempatkan usaha tersebut di jalan untuk menghasilkan keuntungan. SpaceX mengumumkan pada Rabu bahwa pihaknya telah mengumpulkan sekitar US$1,16 miliar dalam pembiayaan ekuitas.

Musk telah menguraikan agenda ambisius untuk SpaceX dan roketnya yang dapat digunakan kembali, termasuk mendaratkan manusia di Mars. Namun dalam waktu dekat, bisnis utama SpaceX adalah meluncurkan satelit untuk usaha internet Starlink Musk, serta satelit dan kargo luar angkasa lainnya.

Tidak seperti pendaratan bulan Apollo dari tahun 1969 hingga 1972, NASA sekarang bersiap untuk kehadiran jangka panjang di bulan yang dibayangkannya sebagai batu loncatan menuju rencana yang bahkan lebih ambisius untuk mengirim astronot untuk mencapai Mars. NASA sangat bergantung pada perusahaan swasta yang dibangun dengan visi bersama untuk eksplorasi ruang angkasa.

baca juga: NASA Memilih SpaceX untuk Mengembangkan Pendaratan di Bulan

NASA pada bulan Desember menunjuk 18 astronot untuk kemungkinan berpartisipasi dalam misi NASA yang direncanakan untuk kembali ke permukaan bulan, dengan target waktu 2024. Roket prototipe SpaceX Starship yang tidak berawak gagal mendarat dengan selamat pada 30 Maret setelah uji peluncuran dari Boca Chica, Texas.

Starship adalah salah satu dari serangkaian prototipe roket angkat berat yang dikembangkan oleh SpaceX untuk membawa manusia dan 100 ton kargo untuk misi masa depan ke bulan dan Mars. Penerbangan orbital Starship pertama direncanakan pada akhir tahun. (Straitstimes/OL-3)


 

BERITA TERKAIT