11 April 2021, 14:30 WIB

Internet Dinonaktifkan, Pemuda Myanmar Terbitkan Buletin


 Nur Aivanni | Internasional

AFPTV / AFP
 AFPTV / AFP
Buletin bawah tanah disebar kalangan anti-kudeta dari kalangan muda Myanmar sebagai respons penutupan internet oleh penguasa junta militer  

PEMUDA Myanmar tengah melawan pemadaman internet dan penekanan informasi oleh junta dengan buletin cetak bawah tanah yang diam-diam mereka bagikan ke seluruh komunitas.

Selama 56 hari berturut-turut telah terjadi pemadaman internet di Myanmar yang dilanda kudeta, menurut kelompok pemantau NetBlocks.

Negara itu berada dalam kekacauan sejak pemimpin yang terpilih secara demokratis Aung San Suu Kyi digulingkan dalam kudeta 1 Februari 2021.

Kudeta militer pun memicu pemberontakan massal yang mengakibatkan tindakan keras keamanan yang brutal dan lebih dari 700 kematian warga sipil.

Lynn Thant yang berusia tiga puluh tahun, bukan nama sebenarnya, memulai buletin tersebut dan memberinya nama Molotov untuk menarik kaum muda.

"Ini adalah respons kami terhadap mereka yang memperlambat arus informasi - dan itu merupakan ancaman bagi kami," katanya kepada AFP. Lynn Thant pun sadar mengenai risikonya.

Ribuan pembaca di seluruh negeri mengunduh versi PDF dari penerbitan tersebut dan mencetak serta mendistribusikan salinan fisiknya ke seluruh lingkungan di Yangon dan Mandalay dan daerah lainnya.

Polisi dan tentara menangkap lebih dari 3.000 orang sejak kudeta tersebut, menurut kelompok pemantau lokal Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik.

Sekitar 180 selebritas terkenal termasuk aktor, penyanyi, dan influencer media sosial berada dalam daftar surat perintah penangkapan dan bisa menghadapi hukuman penjara tiga tahun jika terbukti menyebarkan perbedaan pendapat terhadap militer.

"Jika kita menulis literatur revolusioner dan mendistribusikannya seperti ini, kita bisa berakhir di penjara selama bertahun-tahun," katanya.

"Bahkan jika salah satu dari kami ditangkap, ada anak muda yang akan terus memproduksi buletin Molotov. Bahkan jika salah satu dari kami terbunuh, orang lain akan muncul ketika seseorang jatuh. Buletin Molotov ini akan terus ada hingga revolusi berhasil," tuturnya.

Dia mengatakan sejauh ini publikasi tersebut telah menjangkau lebih dari 30.000 orang di Facebook dan audiens utamanya adalah para aktivis Generasi Z. Salinan buletin juga didistribusikan di bawah radar di pasar produk.

Myanmar hidup di bawah kekuasaan militer selama 49 tahun sebelum beralih ke demokrasi pada tahun 2011.

Media independen berada di bawah ancaman, dengan 64 jurnalis ditangkap sejak kudeta dan 33 masih ditahan, menurut kelompok pemantau Reporting ASEAN. Junta juga mencabut izin lima media. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT