31 March 2021, 18:24 WIB

Sempat Diboikot, H&M Berjuang Kembali ke Pasar Tiongkok


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

AFP
 AFP
Warga Beijing melintasi gerai ritel raksasa asal Swedia, H&M.

PERUSAHAAN pakaian Swedia H&M tengah berupaya menyelesaikan persoalan boikot di Tiongkok. Polemik itu menyusul keputusan H&M untuk berhenti mengambil kapas dari Xinjiang, karena isu kerja paksa.

H&M dan merek fesyen global lainnya mendapat kecaman di Tiongkok. Sebab, mereka menyuarakan keprihatinan terhadap dugaan pelanggaran ketenagakerjaan di ladang kapas wilayah barat Negeri Tirai Bambu.

Selebritas dan perusahaan teknologi Tiongkok diketahui menarik kemitraan dengan H&M, Nike, Adidas, Burberry dan Calvin Klein. Bahkan, H&M dihapus dari aplikasi belanja di Tiongkok.

Baca juga: Nike Buat Pernyataan Soal Uighur, Selebritas Tiongkok Murka

"Kami bekerja sama dengan kolega kami di Tiongkok untuk melakukan segala yang kami bisa. Untuk mengelola tantangan saat ini dan menemukan jalan keluar," bunyi pernyataan H&M.

"Kami berupaya mendapatkan kembali kepercayaan dan keyakinan pelanggan, kolega dan mitra bisnis kami di Tiongkok," imbuh pernyataan tersebut.

Kelompok pegiat hak asasi manusia (HAM) menyebut lebih dari satu juta warga Uighur dan sebagian besar etnis minoritas Muslim telah ditahan di sejumlah kamp interniran di Xinjiang. Mereka juga dipaksa bekerja di pabrik.

Baca juga: PBB Berusaha Dapat Akses ke Xinjiang

Sekitar 6% pendapatan H&M berasal dari penjualan di Tiongkok, yang merupakan rumah bagi hampir 10% gerai perusahaan tersebut. Sebelum adanya boikot, Tiongkok menjadi pasar terbesar ketiga H&M.

Perusahaan belum merilis nilai dampak finansial dari boikot di Tiongkok. Berikut, tindakan apa yang telah diambil untuk menanggapi kontroversi tersebut.

"Tiongkok adalah pasar yang sangat penting bagi kami. Komitmen jangka panjang kami untuk Tiongkok tetap kuat," tegas pernyataan H&M, yang sudah menjual produk di Tiongkok lebih dari 30 tahun.(CNA/OL-11)

BERITA TERKAIT