10 March 2021, 00:00 WIB

Biarawati Myanmar Lindungi Demonstran dengan Berlutut 


Nur Aivanni | Internasional

AFP/Handout Mytkina News Journal
 AFP/Handout Mytkina News Journal
Biarawati berlutut di depan aparat kepolisian Myanmar

SEORANG biarawati Katolik dengan pakaian putih sederhana, merentangkan tangannya sambil berlutut di hadapan petugas polisi bersenjata di Myanmar. Dia memohon agar polisi memaafkan anak-anak yang melakukan aksi protes, dan mengambil nyawanya sebagai ganti.

“Saya berlutut memohon kepada mereka untuk tidak menembak dan menyiksa anak-anak, tetapi untuk menembak dan membunuh saya,” katanya pada Selasa (9/3).

Tindakan keberaniannya di kota Myitkyina pada Senin terjadi ketika kondisi Myanmar sedang kacau setelah penggulingan pemimpin sipil, Aung San Suu Kyi oleh militer pada 1 Februari. Ketika protes yang menuntut kembalinya demokrasi telah bergulir, junta terus meningkatkan penggunaan kekuatannya, menggunakan gas air mata, meriam air, peluru karet, dan peluru tajam untuk menghadapi massa.

Para pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan di Myitkyina, ibu kota negara bagian Kachin, pada hari Senin mengenakan topi keras dan membawa perisai buatan sendiri.

Saat polisi mulai berkumpul di sekitar demonstran, Suster Ann Rose Nu Tawng dan dua biarawati lainnya memohon agar mereka pergi.

"Polisi mengejar untuk menangkap mereka dan saya mengkhawatirkan anak-anak," katanya.

Pada saat itulah biarawati berusia 45 tahun itu berlutut. Beberapa saat kemudian, saat dia memohon untuk menahan diri, polisi mulai menembaki kerumunan pengunjuk rasa di belakangnya.

“Anak-anak panik dan lari ke depan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa tetapi saya berdoa agar Tuhan menyelamatkan dan membantu anak-anak,” tuturnya.

Pertama, dia melihat seorang pria tertembak di kepala jatuh tewas di hadapannya, kemudian dia merasakan sengatan gas air mata.

"Saya merasa dunia sedang runtuh," ujarnya.

"Saya sangat sedih itu terjadi saat saya memohon kepada mereka," imbuhnya.

Baca juga : Penampungan Tepi Barat Sambut Keledai yang tidak Laku

Tim penyelamat lokal mengkonfirmasi bahwa dua pria ditembak mati di tempat selama bentrokan Senin, meskipun tidak mengkonfirmasi apakah peluru tajam atau peluru karet yang digunakan.

Pada hari Selasa, salah satu korban tewas, Zin Min Htet, dibaringkan dalam peti kaca dan diangkut dengan mobil jenazah emas yang ditutupi bunga putih dan merah.

Para pelayat mengangkat tiga jari sebagai simbol perlawanan, saat ansambel musik pemain instrumen kuningan, penabuh genderang dan seorang bagpiper berseragam putih bersih memimpin prosesi pemakaman.

Kachin, negara bagian paling utara Myanmar, adalah rumah bagi kelompok etnis Kachin dan merupakan lokasi konflik selama bertahun-tahun antara kelompok etnis bersenjata dan militer.

Puluhan ribu orang telah meninggalkan rumah mereka ke kamp pengungsian di seluruh negara bagian - dan di antara organisasi yang membantu mereka adalah kelompok Kristen.

Senin bukanlah pertemuan pertama Suster Ann Rose Nu Tawng dengan pasukan keamanan. Pada 28 Februari dia membuat permohonan yang sama untuk meminta belas kasihan, berjalan perlahan ke arah polisi dengan perlengkapan anti huru hara, berlutut dan memohon agar mereka berhenti.

"Saya mengira diri saya sudah mati sejak 28 Februari," katanya tentang hari dia membuat keputusan untuk melawan polisi bersenjata.

Pada hari Senin, dia ditemani oleh para suster dan uskup setempat, yang mengelilinginya saat dia memohon belas kasihan bagi para pengunjuk rasa.

"Kami berada di sana untuk melindungi saudara perempuan kami dan warga kami karena dia mempertaruhkan nyawanya," kata Suster Mary John Paul.

Ketakutan sangat mendalam bagi Suster Ann Rose Nu Tawng, tetapi dia berkata bahwa dia harus berani dan akan terus membela demonstran.

"Saya tidak bisa berdiri dan menyaksikan tanpa melakukan apa pun, melihat apa yang terjadi di depan mata saya sementara semua Myanmar berduka,” tandasnya. (The Guardian/OL-7)

BERITA TERKAIT