02 March 2021, 10:50 WIB

Terkait Kasus Khashoggi, AS Tak Beri Sanksi Pangeran Salman


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

MOHAMMED AL-SHAIKH and OSCAR DEL POZO / AFP
 MOHAMMED AL-SHAIKH and OSCAR DEL POZO / AFP
Jurnalis Jamal Khashoggi (kiri) dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS).

PEMERINTAHAN Joe Biden pada Senin (1/3) membela keputusannya untuk tidak menerapkan sanksi pada Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) atas kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi pada 2018.

"Kami sedang bekerja untuk menempatkan hubungan AS-Saudi pada pijakan yang benar," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price pada konferensi pers di Washington, membela keputusan pemerintahan Biden untuk tidak memberikan sanksi kepada putra mahkota, yang merupakan penguasa de facto Arab Saudi.

“Pemerintahan Biden sedang berusaha untuk mengkalibrasi ulang, bukan memutuskan hubungan AS-Saudi.”

“Seandainya pemerintahan Biden melakukan sesuatu yang lebih dramatis dan sesuatu yang lebih drastis dengan menyebut MBS sebagai sanksi, itu akan sangat mengurangi pengaruh AS di Riyadh,” imbuhnya.

Departemen Luar Negeri AS pada 26 Februari menempatkan 76 warga negara Saudi dalam daftar larangan bepergian dan Departemen Keuangan menjatuhkan sanksi keuangan pada pejabat Saudi yang terlibat dalam pembunuhan Khashoggi, tetapi Putra Mahkota Mohammed tidak termasuk.

Sanksi tersebut diumumkan setelah Kantor Direktur Intelijen Nasional merilis laporan yang tidak diklasifikasikan, yang disiapkan CIA dan agen mata-mata AS lainnya yang memberikan tanggung jawab atas operasi yang menewaskan Khashoggi ke MBS.

“Pilihan yang dibuat Riyadh akan memiliki implikasi yang sangat besar bagi kawasan itu,” kata Price.

“Tujuan kami dalam semua ini adalah untuk dapat membentuk pilihan-pilihan itu ke depan. Itulah mengapa kami membicarakan hal ini bukan sebagai pemutusan tetapi sebagai kalibrasi untuk memastikan bahwa kami mempertahankan pengaruh tersebut dalam apa yang kami butuhkan untuk kepentingan kami sendiri,” tuturnya.

Price mengatakan, sejak Joe Biden terpilih sebagai presiden AS, Riyadh telah mengambil langkah ke arah yang benar dengan membebaskan aktivis hak perempuan Loujain al-Hathloul dan dua warga negara ganda Saudi-AS, serta mengakhiri blokade yang dipimpin Saudi terhadap Qatar.

Laporan ODNI mengatakan badan-badan intelijen AS telah menyimpulkan lebih dari setahun yang lalu bahwa putra mahkota Saudi telah menyetujui operasi oleh anggota pengawal untuk menangkap atau membunuh Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul, Turki.

Kementerian Luar Negeri Saudi pada Jumat menolak laporan AS dan menilainya tidak akurat. Pejabat Saudi membantah MBS terlibat dalam kematian Khashoggi.

ODNI pada hari Senin (1/3) juga mengatakan telah menghapus tiga nama dari 21 orang yang diidentifikasi dalam laporan asli Khashoggi sebagai orang terlibat dalam pembunuhan itu.

Nama Abdulla Mohammed Alhoeriny, Yasir Khalid Alsalem, dan Ibrahim al-Salim tidak tercantum dalam versi revisi laporan ODNI yang ditempatkan di situs web agensi.

“Kami meletakkan dokumen yang direvisi di situs web karena yang asli berisi tiga nama yang seharusnya tidak ditambahkan,” menurut juru bicara ODNI.

Kantor tidak memberikan penjelasan lebih lanjut atas kesalahan tersebut. Versi baru ODNI dari laporan tersebut mencantumkan 18 orang selain MBS telah berpartisipasi, memerintahkan, atau terlibat atau bertanggung jawab atas kematian Jamal Khashoggi. (Aiw/The Guardian/OL-09)

BERITA TERKAIT