02 February 2021, 11:28 WIB

Karena Nyawa begitu Berharga


Adiyanto | Internasional

ERNESTO BENAVIDES / AFP
 ERNESTO BENAVIDES / AFP
Tabung oksigen seukuran manusia berjejer di tepi jalan, sementara pemiliknya bergeletakan di dekatnya. 

RATUSAN tabung oksigen seukuran manusia berjejer di tepi jalan, sementara pemiliknya bergeletakan di dekatnya. Sebagian ada yang pulang dulu, namun umumnya mereka rela antre berhari-hari di tempat itu. Pemandangan semacam itu kini lazim di Amerika selatan, terutama Peru.

Di negara itu, warga berbaris siang dan malam untuk mendapatkan oksigen demi menyelamatkan hidup orang yang mereka cintai di rumah. Mereka rela tidur di jalan, terkadang berhari-hari, untuk antre demi mengisi tabung oksigen.

Di malam yang dingin, para pengantre berlindung di tenda-tenda kecil, di bawah selimut atau lembaran karton di luar Criogas, pabrik oksigen kecil di kota pelabuhan El Callao, dekat ibu kota Lima.  “Kemarin saya antre panjang. Saya sudah di sini sejak jam 05.00 kemarin. Saya datang terlambat karena ketika saya datang, sudah ada orang yang sudah dua atau tiga hari di sini,” kata Yamil Antonio Suca.

Pemuda berusia 25 tahun itu berharap tidak  pulang dengan tangan hampa. “Ayah saya mengidap Covid-19, usianya 50 tahun, dia butuh oksigen,” kata Suca.

Setiap pagi, staf pabrik dibantu oleh petugas polisi berkeliling, merevisi daftar tunggu, dan mengumumkan berapa tabung yang bisa diisi hari itu. Pabrik itu belum menaikkan harga, meskipun yang lain telah menaikkan harga mereka sebanyak 300%,  praktik yang oleh Menteri Kesehatan Pilar Mazzetti dikecam sebagai tindakan kriminal.

Gelombang kedua Covid-19 telah menyebabkan persediaan oksigen menipis di beberapa negara Amerika Selatan. Banyak keluarga di Peru mengatakan, orang yang mereka cintai meninggal karena mereka tidak dapat mengaksesnya. Tabung oksigen dibutuhkan karena punya kemampuan untuk mengubah air menjadi oksigen. Oksigen itu nantinya dialirkan melalui selang ke saluran pernapasan pasien, bisa melalui hidung atau mulut.

Di El Callao, orang-orang rela tidur di jalan selama berhari-hari, tanpa akses kamar mandi dan beberapa tanpa makanan, untuk mendapatkan barang berharga tersebut. Banyak dari orang yang mereka cintai dirawat di rumah, karena rumah sakit kekurangan tempat tidur.

Miguel Angel, 22, mengatakan dia berada di urutan nomor 124. "Kami memiliki anggota keluarga, 89 tahun, kami melakukan apa yang kami bisa untuknya," katanya. Dia datang dengan sepupunya untuk bergiliran mengantre.

Pabrik hanya dapat mengisi 10 tabung setiap 45 menit, sampai jam tutup pukul 17.00. "Ibuku rapuh, dia 69 tahun. Jika kita tidak membawa oksigen, dia akan mati."kata Yulitza Torres, caloan pembeli lainnya.

Polisi ditempatkan dekat pabrik itu untu mengawasi calon pembeli, mencegah mereka menyerobot antrean. Kehadiran aparat juga untuk mengantisipasi pedagang yang ingin memanfaatkan harga khusus yang disediakan untuk pelanggan perorangan .

Penduduk di Lima dan tujuh distrik lainnya di Peru, berada di bawah penguncian (lockdown) mulai Senin (1/2) hingga setidaknya 14 Februari, untuk mengantisipasi gelombang kedua virus yang merusak sistem pernapasan itu. Negara dengan 33 juta penduduk telah mencatat lebih dari 1,1 juta kasus dan lebih dari 40.000 kematian sejak Maret tahun lalu. (AFP/M-4)

BERITA TERKAIT