08 January 2021, 02:35 WIB

Pemimpin Dunia Kecam Rusuh AS


Nur Aivanni | Internasional

AFP/DREW ANGERER
 AFP/DREW ANGERER
Aparat kepolisian menodongkan pistol ke arah pendukung Donald Trump yang berusaha masuk ke House Chamber di Gedung Capitol, Washington DC.

PEMIMPIN dari berbagai negara mengecam kerusuhan yang terjadi di Gedung Capitol atau kantor Kongres Amerika Serikat di Washington. Mereka menyebutnya sebagai sebuah serangan terhadap demokrasi.

Peristiwa bermula ketika para pendukung Donald Trump kemarin menerobos blokade polisi dan masuk ke gedung. Saat itu para anggota Kongres tengah bersidang untuk mengesahkan kemenangan pesaing Trump, Joe Biden, di Pemilu Presiden AS. Aparat keamanan lalu menembakkan gas air mata untuk mengusir para pendemo.

Polisi menyebut seorang perempuan tewas tertembak dan tiga lainnya meninggal karena darurat medis. Selain itu, 52 orang ditangkap karena membawa senjata api tanpa izin dan melanggar jam malam.

Reaksi datang dari Biden yang menyebut aksi itu sebagai ‘pemberontakan’. Mantan Presiden AS Barack Obama juga ikut berkomentar dan mengistilahkannya sebagai aib besar bagi Amerika.

Adapun Trump merilis video yang meminta para pendemo meninggalkan gedung. Namun, Trump berkukuh tentang kecurangan di Pilpres AS. Tidak lama kemudian, Twitter, Facebook, dan Youtube memblokir atau membatasi unggahan Trump yang dianggap memicu keributan.

Kerusuhan yang disiarkan melalui media massa dan media sosial itu juga mengundang kecaman dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

“Dalam keadaan seperti itu, para pemimpin politik seharusnya mendorong pendukung mereka untuk tidak melakukan kekerasan dan menghormati proses demokrasi,” ungkap juru bicara Guterres, Stephane Dujarric.

Kritik lebih keras disampaikan oleh Kanselir Jerman Angela Merkel. Baginya, Trump ikut menjadi penyebab kerusuhan. “Sangat disayangkan Presiden Trump belum juga mau mengaku kalah,” kata Merkel.

Kecaman serupa datang dari pemimpin Inggris, Prancis, Uni Eropa, NATO, Israel, hingga Rusia, India, dan Turki.

Di sisi lain, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan kerusuhan itu membuka topeng mengenai betapa bobroknya demokrasi Barat. “Saya harap dunia dan Presiden AS selanjutnya bisa belajar dari kejadian itu,” tegas Rouhani.

Sementara itu, Kongres AS sendiri akhirnya mengonfi rmasi hasil penghitungan surat suara, yaitu Biden unggul dengan 306 suara dan Trump 232 suara elektoral. Dengan demikian, Biden dan Kamala Harris akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden AS pada 20 Januari 2021.

Sumber: AFP/Riset MI-NRC/ Grafis: SENO

 


Pendukung fanatik

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran Bandung, Teuku Rezasyah, mengatakan keributan di Amerika Serikat merupakan akumulasi dari banyak faktor.

Pertama, Trump berhasil meyakinkan pendukung fanatiknya soal kemenangan di Pilpres AS. Kedua, lamanya proses penghitungan suara sehingga memudahkan Trump dan Partai Republik untuk terus mengendalikan isu pilpres.

Faktor ketiga ialah tingginya jumlah pengangguran dan penderita covid-19 yang lalu memanfaatkan masa ak hir kepemimpinan Trump untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka.

“Keempat, kurangnya keterlibatan pemimpin informal dalam sektor agama, etnik, budaya, olahraga, pemuda, dan bisnis dalam menenteramkan basis massa mereka,” kata Rezasyah. (Aiw/AFP/X-11)

BERITA TERKAIT