22 November 2020, 19:00 WIB

Mufti Mesir Dukung Ulama Saudi Larang Ikhwanul Muslimin


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/APA/Erwin Scheriau
 AFP/APA/Erwin Scheriau
.

MUFTI Besar Mesir Shawki Allam mengumumkan bahwa menjadi anggota kelompok Ikhwanul Muslimin dilarang secara agama. Ia berdalih ideologinya menyerukan untuk menghasut kekerasan.

Dalam wawancara dalam talk show Nathra di Sada al-Balad TV, Allam mengatakan bahwa semua kelompok teroris seperti Ikhwanul Muslimin merupakan ancaman dan ada banyak bukti agama yang melarang menjadi anggota kelompok teroris. Dikutip dari Egypt Today, mufti itu memuji keputusan Majelis Ulama Senior Arab Saudi yang melabeli Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris yang tidak mewakili pendekatan Islam sebelumnya.

Menurut pejabat Saudi Press Agency (SPA) yang mengutip pernyataan tersebut, majelis tersebut menjelaskan bahwa kelompok Ikhwanul Muslimin secara membabi buta mengikuti tujuan partisan yang bertentangan dengan tuntunan agama kita yang anggun. Mereka menjadikan agama sebagai topeng untuk menyamarkan tujuannya dengan mempraktikkan hasutan, mendatangkan malapetaka, melakukan kekerasan, dan terorisme.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Persatuan Internasional Cendekiawan Muslim, Ali al-Qaradaghi, mengecam Mufti Agung Shawki Allam yang menyatakan keprihatinannya tentang tumbuhnya radikalisme di kalangan pemuda Muslim di Eropa.

Menanggapi pernyataan Allam bahwa 50% muslim generasi kedua dan ketiga di Eropa menjadi milik ISIS, Qaradaghi menuduhnya tidak jujur ​​dan kurang saleh. "Wahai mufti otoriter, kita membutuhkan kesalehan sebelum fatwa," kata Qaradaghi seperti dikutip dari The Arab Weekly.

Selain itu, Allam merespons atas masalah radikalisme di Eropa. “Kami tidak membenarkan kejahatan mereka. Kami mengutuk mereka dan mengatakan bahwa ini sama sekali tidak sejalan dengan Islam. Kejahatan individu tidak boleh digunakan untuk menghakimi Islam sehingga merugikan muslim," ujarnya.

Namun, Qaradaghi menggunakan kesempatan itu untuk mengkritik status lembaga keagamaan di Mesir. Menurutnya, lembaga keagamaan di Mesir telah berubah menjadi aparatur fungsional yang melayani negara. (OL-14)

BERITA TERKAIT