10 November 2020, 05:35 WIB

Al-Azhar Janji Tuntut Pembuat Kartun Nabi Muhammad ke Pengadilan


Mediaindonesia.com | Internasional

AFP/Al-Azhar Media Centre
 AFP/Al-Azhar Media Centre
.

IMAM Besar Al-Azhar Ahmed El-Tayyeb menolak tindakan penghinaan kepada Nabi Muhammad berupa pembuatan kartun. Ia berjanji untuk menuntut pelaku di pengadilan internasional.

Pernyataan lembaga Islam Sunni terkemuka dunia itu datang dalam pertemuan El-Tayyeb dengan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian, Minggu (8/11). Ia mengunjungi Mesir untuk membantu mengurangi ketegangan karena komentar Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang Islam.

Macron membela hak bersuara terkait menggambar kartun tentang Nabi Muhammad. Menurutnya, Prancis tidak akan meninggalkan kartun tersebut. Akibatnya, beberapa kampanye diluncurkan di dunia Islam, terutama di media sosial, menyerukan boikot produk Prancis sebagai tanggapan.

"Jika Anda mempertimbangkan penghinaan kepada Nabi kami--kedamaian atas beliau--sebagai kebebasan berbicara, kami dengan tegas menolaknya," bunyi pernyataan itu.

"Saya orang pertama yang memprotes kebebasan berbicara ketika kebebasan ini melanggar agama apa pun, tidak hanya Islam," kata imam besar itu. "Eropa berutang budi kepada Nabi kami Muhammad dan agama kami, karena cahaya yang telah diperkenalkan agama ini kepada seluruh umat manusia."

"Kami menolak menyebut terorisme Islami," lanjut El-Tayyeb. Ia menyerukan setiap orang harus segera berhenti menggunakan istilah tersebut, karena itu menyakiti perasaan umat Islam di seluruh dunia dan bertentangan dengan kebenaran yang diketahui oleh semua orang.

El-Tayyeb menegaskan bahwa Muslim di seluruh dunia menolak terorisme yang bertindak di bawah kedok agama. Ia menekankan bahwa Islam dan Nabi tidak ada hubungannya dengan terorisme.

"Al-Azhar mewakili suara hampir dua miliar muslim. Saya mengatakan teroris tidak mewakili kami dan kami tidak bertanggung jawab atas tindakan mereka. Saya mengumumkan itu di semua forum internasional, Paris, London, Jenewa, Amerika Serikat, Roma, negara-negara Asia, dan di mana-mana. Saat kami mengatakan ini, kami tidak mengatakannya sebagai permintaan maaf. Islam di atas permintaan maaf," tambahnya.

"Saya dan sorban Al-Azhar ini membawa mawar di Bataclan Square di Paris dan menyatakan penolakan terhadap segala bentuk terorisme."

Menurutnya, pelanggaran ada di antara pengikut semua agama dan sistem. "Jika kita mengatakan bahwa Kristen tidak bertanggung jawab atas insiden di Selandia Baru, kita juga harus mengatakan bahwa Islam tidak bertanggung jawab atas terorisme orang-orang yang berperang atas namanya."

Imam besar itu juga merujuk pada peran pendidikan dan ideologis Al-Azhar sepanjang waktu dalam menghadapi terorisme. Pihaknya membuat kurikulum baru yang menegaskan bahwa teroris termasuk penjahat dan Islam tidak bertanggung jawab atas tindakan mereka.

El-Tayyeb memuji pernyataan Le Drian selama krisis yang dipicu oleh pernyataan kontroversial Marcon. Baginya, ucapan Le Drian mewakili suara kebijaksanaan.

Dalam sambutan pers, Le Drian menegaskan rasa hormat Prancis yang dalam terhadap Islam, termasuk perannya dalam budaya, sejarah, dan ilmu pengetahuan Prancis, serta peran Imam Besar El-Tayyeb di Al-Azhar dalam menyerukan toleransi dan moderasi.

Dia menambahkan bahwa muslim di Prancis merupakan bagian integral dari masyarakat Prancis dan dapat menjalankan ritual mereka di bawah perlindungan negara. "Satu-satunya pertempuran yang harus dilakukan bersama dengan mitra di Mesir yaitu melawan terorisme dan ekstremisme dan mereka yang mendistorsi agama untuk tujuan politik," kata Le Drian.

Negaranya, imbuh dia, membedakan antara Islam dan ekstremis. Bahkan, muslim menjadi korban utama terorisme. "Dengan lembaga besar seperti Al-Azhar, kita harus melawan kombinasi kebencian dan delusi agama ekstremis," katanya. (Al-Ahram/OL-14)

BERITA TERKAIT