08 July 2020, 00:10 WIB

Gejala Covid-19 Bolsonaro Jalani Tes


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP
 AFP
Presiden  Brasil Jair Bolsonaro

PRESIDEN Brasil Jair Bolsonaro mengatakan, Senin (6/7), ia telah menjalani tes covid-19 dan paru-parunya dinyatakan bersih. Hal itu ia lakukan setelah media lokal melaporkan dirinya memiliki gejala yang terkait dengan penyakit pernapasan covid-19.

Bolsonaro berulang kali mengecilkan bahaya covid-19, bahkan ketika Brasil mengalami salah satu wabah terburuk di dunia dengan lebih dari 1,6 juta kasus yang dikonfirmasi dan 65.000 kematian, Senin. CNN Brasil dan surat kabar Estado de S Paulo melaporkan Bolsonaro memiliki gejala penyakit virus korona, seperti demam.

Bolsonaro mengatakan kepada para pendukung di luar istana presiden bahwa dia baru saja mengunjungi rumah sakit dan telah dites. Dalam komentar yang direkam Foco do Brasil, saluran Youtube propemerintah, ia mengatakan, “Saya tiba dari rumah sakit, menjalani pemindaian paru-paru. Paruparunya bersih.”

Kantor presiden mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa presiden sayap kanan tersebut ada di rumahnya dan dalam keadaan sehat. Bolsonaro sering menentang pedoman lokal seperti mengenakan masker di depan umum, bahkan setelah seorang hakim memutuskan ia harus menggunakannya.

Selama akhir pekan, Bolsonaro menghadiri beberapa acara dan melakukan kontak erat dengan Duta Besar AS untuk Brasil selama perayaan 4 Juli. Kedutaan AS di Brasilia tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Bolsonaro dinyatakan negatif setelah beberapa pembantunya terdiagnosis covid-19 seusai kunjungan ke Mara Lago, Florida, milik Presiden AS Donald Trump, pada Maret.


Penyakit zoonosis

Para pakar PBB memperingatkan bahwa penyakit zoonosis yang melompat dari hewan ke manusia semakin meningkat dan akan terus berlanjut tanpa tindakan untuk melindungi satwa liar dan melestarikan lingkungan.

Mereka menyalahkan peningkatan penyakit seperti covid-19 karena tingginya permintaan protein hewani, praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, dan perubahan iklim. Penyakit zoonosis yang diabaikan membunuh 2 juta orang per tahun. 

“Ilmu pengetahuannya jelas bahwa jika kita terus mengeksploitasi satwa liar dan menghancurkan ekosistem, kita dapat berharap untuk melihat aliran stabil penyakit ini melompat dari hewan ke manusia di tahun-tahun mendatang,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal dan Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB Inger Andersen.

“Untuk mencegah wabah di masa depan, kita harus menjadi lebih berhati-hati dalam melindungi lingkungan alam kita.” Covid-19 diperkirakan mengakibatkan biaya ekonomi global US$9 triliun selama dua tahun.

Ebola, virus Nil Barat (West Nile), dan SARS juga semua penyakit zoonosis, yang berawal pada hewan, dan membuat lompatan ke manusia. Namun, lompatan itu tidak otomatis. Hal itu, menurut laporan Environment Programme Perserikatan Bangsa-Bangsa dan International Livestock Research Institute (ILRI), didorong degradasi lingkungan alam kita, misalnya melalui degradasi lahan, eksploitasi satwa liar, ekstraksi sumber daya, dan perubahan iklim. Ini mengubah cara hewan dan manusia berinteraksi.

“Pada abad terakhir kita telah melihat setidaknya enam wabah utama virus korona baru,” kata Andersen.

“Selama dua dekade terakhir dan sebelum covid-19, penyakit zoonosis menyebabkan kerusakan ekonomi US$100 miliar.” (France24/BBC/I-1)

BERITA TERKAIT