06 July 2020, 11:20 WIB

Petugas Penyelamat Berjuang Temukan Korban Banjir


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/STR/JIJI PRESS
 AFP/STR/JIJI PRESS
Dampak banjir yangterjadi di Ashikita, Prefektur Kumamoto pada 5 Juli 2020

Petugas penyelamat di Jepang, Senin (7/6), menyisir puing-puing rumah yang hancur diterjang banjir dan tanah longsor yang mematikan dalam perjuangan pencarian korban yang selamat. Upaya penyelamatan berlangsung di tengah hujan lebat yang semakin deras dan saat korban terus bertambah.

Setidaknya 36 orang dikhawatirkan tewas setelah terjadi hujan deras di beberapa daerah Jepang barat pada Sabtu dini hari lalu. Hujan deras menyebabkan sungai-sungai meluap dan daerah-daerah dataran rendah banjir.

"Petugas penyelamat tanpa lelah melanjutkan pencarian pagi ini," kata juru bicara Prefektur Kumamoto kepada AFP.

Dia menambahkan sedikitnya 11 orang masih belum ditemukan.

Sebelumnya Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan, Minggu, lebih dari 40.000 personel dari kepolisian dan pemadam kebakaran, penjaga pantai dan pasukan Bela Diri Jepang akan melakukan operasi pencarian dan penyelamatan sepanjang malam.

Meskipun hujan telah reda dari level puncaknya, tapi banjir merusak jalan dan menghanyutkan jembatan, membuat banyak komunitas terpencil terputus.

Hirokazu Kosaki, 75, seorang pengemudi di Kota Ashikita, mengatakan kepada Jiji pers, "Tidak ada yang lain, selain air yang saya lihat sejauh mata memandang."

Di salah satu daerah yang paling terpukul, para penduduk menuliskan kata-kata beras, air, dan dukungan penyelamatan jiwa lainnya di tanah, sementara yang lain melambaikan handuk dan meminta bantuan dan barang bantuan.

Di sebuah panti jompo, 14 orang dikhawatirkan meninggal ketika air dari sungai terdekat menggenangi lantai dasar. Ini menyebabkan mereka yang menggunakan kursi roda tidak dapat mencapai tempat yang lebih tinggi.

Baca juga: Italia Izinkan 180 Migran Turun dari Kapal

Layanan darurat, dibantu oleh penduduk setempat dengan rakit, berhasil menyelamatkan sekitar 50 staf dan penghuni panti jompo. Selanjutnya mereka dipindahkan ke tempat yang aman.

Hujan deras diperkirakan akan berlanjut hingga Selasa (7/7) sore. Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan perintah evakuasi tidak wajib untuk ratusan ribu penduduk di Kumamoto dan Prefektur Kagoshima yang berdekatan.

Curah hujan hingga 250 milimeter diperkirakan akan turun dalam periode 24 jam hingga Selasa pagi di bagian selatan Pulau Kyushu, yang meliputi daerah-daerah yang dilanda banjir, kata badan tersebut.

Hirotoshi Nishi, seorang warga, menyapu puing-puing dari kamar depan rumahnya yang berlumpur. "Banyak kayu masuk ke rumahku. Saya tidak tahu harus berbuat apa," katanya kepada penyiar NHK.

Upaya evakuasi terhambat oleh kekhawatiran penyebaran virus covid-19 yang telah menewaskan hampir 1.000 korban di Jepang. Ada hampir 20.000 kasus covid-19 di Jepang.

Karena itu partisi telah didirikan di pusat-pusat evakuasi untuk menjaga jarak antara keluarga dan pengungsi. Selain itu, semuanya diperintahkan untuk sering mencuci tangan dan memakai masker.

Menurut Kyushu Electric Power Co, ada kira-kira 4.640 rumah di Prefektur Kumamoto yang masih tanpa daya listrik hingga Senin pagi. (AFP/France 24/OL-14)

 

BERITA TERKAIT