02 May 2019, 08:45 WIB

Di Bawah Kaisar Naruhito, Jepang Menatap Era Baru


Media Indonesia | Internasional

AFP/Kazuhiro NOGI
 AFP/Kazuhiro NOGI
Kaisar Jepang yang baru, Naruhito, melambaikan tangan dari mobil saat tiba di Imperial Palace, Tokyo, Jepang, kemarin. 

JEPANG kemarin memasuki era kekaisaran baru dalam suasana pesta ketika Naruhito menjadi kaisar ke-126 Jepang dengan menggantikan ayahnya, Hirohito.

Naruhito memasuki Ruang Pinus Istana Kekaisaran Jepang dengan pakaian formal Barat yang berhiaskan rantai emas. Pria berlatar belakang pendidikan dari Universitas Oxford itu turut ditemani sejumlah anggota keluarga laki-laki, termasuk saudaranya Akishino. Tak lama kemudian, Permaisuri Masako tiba di istana dengan tiara bertabur berlian.

Satu hari sebelumnya, pria berusia 59 tahun itu dihadiahi barang-barang warisan Akihito, mencakup harta sakral suci berupa pedang dan permata, meterai negara, dan meterai personal kekaisaran.

Naruhito akan membuat penampilan publik pertama pada Sabtu (4/5). Dia akan berbicara langsung kepada rakyat Jepang. Namun, kemegahan dan upacara sebenarnya baru berlangsung pada 22 Oktober.

Naruhito dan Masako akan muncul dengan jubah tradisional untuk mengikuti upacara di istana sebelum berparade di sejumlah ruas jalan ibu kota. Mereka akan menerima ucapan selamat dari para pemimpin dunia dan bangsawan.

Setelah menjadi kaisar, Naruhito akan bertugas, antara lain, menyambut kepala negara asing. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, misalnya, dijadwalkan segera mengunjungi Jepang dalam rangka bertemu dengannya.

Naruhito mengatakan dirinya berupaya merenungkan secara mendalam tentang  berbagai sikap yang dicontohkan ayahnya, Akihito. Dia mengasumsikan takhta dengan rasa kekhidmatan dan bertekad untuk menciptakan masa depan Jepang yang cerah serta dipenuhi kedamaian dan harapan.

Naruhito dan Masako memiliki seorang anak perempuan berusia 17 tahun, Aiko, yang tidak dapat mewarisi takhta. Sejumlah warga lalu berharap tradisi itu dapat diubah.

Tamae Moriyama, 48, yang bekerja di restoran misalnya, ingin penobatan kaisar baru ini akan memicu perdebatan tentang larangan perempuan naik takhta. “Saya berharap suatu hari perempuan Jepang akan dapat menjadi pemimpin kerajaan seperti di Inggris,” ujarnya. (Yan/Tes/X-11)

BERITA TERKAIT