31 May 2023, 09:21 WIB

BMKG Minta Nelayan Waspadai Gelombang Tinggi di Laut Selatan Jawa


Andhika Prasetyo | Humaniora

MI/Dwi Apriyani
 MI/Dwi Apriyani
Para nelayan sedang beraktivitas di perairan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau nelayan untuk mewaspadai potensi terjadinya gelombang tinggi di laut selatan Jawa Barat hingga Daerah Istimewa Yogyakarta pada musim angin timuran yang merupakan masa panen ikan.

Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo menjelaskan musim angin timuran biasanya memang dibarengi dengan kemunculan berbagai jenis ikan. Di satu sisi, itu bisa memberi keuntungan bagi para nelayan. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga bisa menimbulkan bahaya.

teguh mengatakan, berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, tinggi gelombang di wilayah perairan selatan Jabar-DIY maupun Samudra Hindia selatan Jabar-DIY berpotensi mencapai 2,5 meter sampai 4 meter, sehingga masuk kategori tinggi.

Baca juga: BMKG: Waspadai Gelombang Tinggi pada 30-31 Mei

"Peluang terjadinya gelombang tinggi tersebut diprakirakan akibat pola angin yang dominan bergerak dari timur hingga tenggara dengan kecepatan berkisar 4-20 knot," jelas Teguh.

Ia pun mengimbau nelayan untuk memerhatikan risiko gelombang tinggi terhadap keselamatan pelayaran karena berdasarkan analisis, angin dengan kecepatan lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter berisiko pada keselamatan perahu nelayan.

Baca juga: BNPB Siapkan Teknologi Modifikasi Cuaca Kurangi Potensi Kekeringan Akibat El Nino

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap Sarjono mengatakan nelayan di wilayah itu pasti akan memanfaatkan musim angin timuran untuk memanen ikan.
Menurut dia, beberapa jenis ikan sudah mulai bermunculan di laut selatan meskipun, berdasarkan pengalaman, puncak musim panen ikan bagi nelayan Cilacap baru akan berlangsung pada bulan Juli hingga September.
 
"Semoga pada musim angin timuran dan musim kemarau tahun ini hasil tangkapan nelayan jauh lebih baik dibandingkan. Kami juga akan mengimbau nelayan yang berangkat melaut untuk tetap memerhatikan risiko gelombang tinggi," tutur Sarjono. (Ant/Z-11)

BERITA TERKAIT