21 April 2023, 14:24 WIB

Ibadah pada Malam Id dan Keutamaannya


Wisnu Arto Subari | Humaniora

Antara/Fransisco Carolio.
 Antara/Fransisco Carolio.
Sejumlah warga membawa obor saat takbir keliling di kawasan Padang Bulan, Medan, Sumatra Utara, Sabtu (9/7/2022).

MALAM ini merupakan malam Id atau malam Lebaran untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri besok. Umat Islam bergembira menyambut malam Id atau malam Lebaran. Kegembiraan semacam ini termasuk hal yang dianjurkan syariat. 

Namun, alangkah baiknya umat Islam tidak hanya bergembira pada malam Id. Lantas apa saja yang mesti dilakukan umat Islam dalam menyambut malam Lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha? Apa saja keutamaan atau fadilah bagi yang menghidupkan malam Id?

Takbiran pada malam Id

Umat Islam dianjurkan mengumandangkan takbir pada malam Id mulai dari menjelang maghrib hingga pelaksanaan salat Idul Fitri besok. Berikut dalil takbiran pada malam Id.

Baca juga: Minal 'Aidin wal Faizin: Arti, Penulisan, Pengucapan yang Benar

Allah SWT berfirman, "Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu." (QS Al-Baqarah: 185)

Dari ayat tersebut, dapat diketahui bahwa setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, umat Islam disyariatkan untuk mengagungkan Allah SWT dengan cara takbiran.

Baca juga: Doa-Doa Akhir Ramadan agar tidak Menjadi yang Terakhir

Ibn Abi Syaibah meriwayatkan, "Rasulullah keluar rumah menuju lapangan, lalu beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai salat selesai. Setelah menyelesaikan salat, beliau menghentikan takbir. (HR Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5621)

Ibadah pada malam Id

Untuk menuju tingkatan iman yang lebih besar, seorang muslim semestinya mengungkapkan kebahagiaan dengan melakukan ibadah kepada Allah Ta'ala pada malam Id.

Baca juga: Arti Taqabbalallahu Minna wa Minkum dan Cara Menjawab

Karena itu, para ahli fikih menyampaikan dianjurkan di malam Id bagi kaum muslimin untuk menghidupkan malamnya dengan ibadah. Di antara cara menghidupkan malam Id ialah dengan salat malam, membaca Al-Qur'an, zikir, atau dengan tetap melaksanakan salat subuh dan isya berjamaah, bahkan (termasuk menghidupkan malam Id) dengan salat subuh berjamaah.

Berkata Imam Nawawi rahimahullah:

قَالَ أَصْحَابُنَا يُسْتَحَبُّ إحْيَاءُ لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ بِصَلَاةٍ أَوْ غَيْرِهَا مِنْ الطَّاعَاتِ

Baca juga: Doa Zikir Mudik agar Selamat dalam Perjalanan

Dan berkata para fuqaha Syafiiyyah, dianjurkan menghidupkan dua malam Id (Idul Fitri dan Idul Adha) dengan salat atau ketaatan-ketaatan yang lain.

Keutamaan menghidupkan malam Id

Bagi umat Islam yang menghidupkan malam Id dengan takbir, ibadah salat malam, zikir, dan lainnya, ada keutamaan atau fadilah yang akan diterima. Berikut dalil keutamaan bagi umat Islam yang menghidupkan malam Id.

Dalam hal ini ada riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

مَنْ قَامَ لَيْلَتَيِ الْعِيدَيْنِ مُحْتَسِبًا لِلَّهِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

Siapa yang menegakkan dua malam Id mengharap pahala Allah, hatinya tidak akan mati pada hari matinya semua hati. (HR Ibnu Majah Nomor 1.782)

Dalam riwayat lain disebutkan:

من أحيا ليلتي العيد

Siapa yang menghidupkan dua malam Id ...

Keutamaan menghidukan malam Id dengan perbanyak ibadah yaitu ada jaminan hatinya tetap akan hidup meskipun hati-hati yang lain mati. Ini tentu jaminan yang menarik dari Rasulullah SAW. 

Menanggapi hadis itu, KH Maimun Zubair atau biasa dipanggil Mbah Moen menyampaikan dalam cuplikan ceramahnya di @gayengco di Instagram bahwa salat pada malam Lebaran (qiyamul lailatul id) itu penting agar hati tidak mati. "Kata Mbah Lirboyo, Mbah Manaf, walaupun kamu tidak pernah salat sunah, jangan sampai meninggalkan salat sunah di malam Lebaran. Paling sedikit dua rakaat bakdiyah isya. Kemudian salat witir tiga rakaat, kalau enggak kuat dua rakaat dan satu rakaat atau satu rakaat biar enggak kelamaan."  

Namun, ada yang berkata bahwa hadis itu dhaif. Bagaimana kita beramal dengan hadis dhaif? Berkata Imam Nawawi rahimahullah mengomentari seluruh riwayat yang berkenaan dengan fadilah itu.

وَأَسَانِيدُ الْجَمِيعِ ضَعِيفَةٌ ... وَاسْتَحَبَّ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ الْإِحْيَاءَ الْمَذْكُورَ مَعَ أَنَّ الْحَدِيثَ ضَعِيفٌ لِمَا سَبَقَ فِي أَوَّلِ الْكِتَابِ أَنَّ أَحَادِيثَ الْفَضَائِلِ يُتَسَامَحُ فِيهَا وَيُعْمَلُ عَلَى وَفْقِ ضَعِيفِهَا.

Dan semua sanad dari riwayat ini ialah dhaif (lemah). Dan Imam Syafi'i serta para fuqaha Syafiiyyah tetap menghukumi sunah menghidupkan malam Id, padahal haditsnya adalah dhaif? Ini karena sudah dijelaskan di awal kitab bahwa hadis yang berkenaan dengan fadilah amal ditoleransi serta boleh diamalkan meski dia dhaif.
[Al-Majmu'Syarh Al-Muhadzdzab (5/42-43)]

Mari kita hidupkan malam Id dengan takbir, salat malam, membaca Al-Qur'an, zikir, salat fardhu berjamaah di masjid, dan ibadah atau kebaikan lain. Ibadah tersebut dapat kita lakukan, baik yang berada di tempat tinggalnya maupun yang tengah dalam perjalanan mudik. Selamat merayakan Idul Fitri. (Z-2)

BERITA TERKAIT