30 March 2023, 17:25 WIB

Lolos SNBP 2023 Kuncinya Konsisten Belajar dan Doa


Devi Rahma Syafira | Humaniora

ISTIMEWA
 ISTIMEWA
BELAJAR BERSAMA: Kegiatan rutin Laras bersama teman-teman belajar bersama di asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan  

PENANTIAN itu tiba juga. Harapannya untuk berkuliah di PTN favorit akhirnya bisa didapatkan. Ialah Felicia Inez Larasati, 17, yang akrab disapa Laras, kemarin, menceritakan rasa suka citanya setelah membuka pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) pada Selasa (28/3) pukul 15.00 WIB.

Diawali doa, Laras pun membuka pengumuman dari laptopnya dan dinyatakan lolos dalam SNBP 2023 di Universitas Gadjah Mada (UGM) di program studi kimia. Saat itu, Laras sedang tidak bersama keluarganya sebab dia tinggal di sebuah asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith di Muntilan, Jawa Tengah.

Laras mengucapkan syukur dan menceritakan perjuangannya sampai dinyatakan lolos SNBP. Dimulai dari SMA kelas X, dia mengaku sudah memiliki keinginan untuk masuk di UGM tanpa jalur tes. Ia pun giat belajar agar nilai di rapornya selalu meningkat dan tidak turun.

“Kalau perjuangan sebenarnya sudah dari kelas X, memang pengen banget bisa masuk UGM terutama jalur tanpa tes. Dari kelas X bikin gimana cara nilai rapor itu terus naik. Intinya selalu try hard ulangan harian pas intinya di ujian harian,” ucap Laras pada Media Indonesia.

Diakui Laras tidak mudah untuk lolos SNBP, sebab ada syarat yang cukup ketat, salah satunya minimal harus menjadi siswa 60% yang memiliki nilai teratas untuk mendapatkan kuota eligible Nantinya siswa yang memenuhi kriteria <i>eligible<p> dapat mengikuti SNBP dengan harapan bisa berkulian di PTN.

Dengan begitu, Laras berusaha belajar di semua mata pelajaran. Awalnya ia fokus belajar di enam mata pelajaran khususnya di IPA sesuai jurusannya. Namun di 2023, ucap Laras, untuk lolos SNBP dilihat di semua mata pelajaran.
Laras menceritakan, dia membagi waktu belajar dimulai dari kelas X. Saat kelas X dan XI, Laras mampu belajar dimanapun khususnya saat covid-19 yang mengaharuskan dirinya belajar daring. Lalu saat kelas XII, ia berada di asrama yang mengharuskannya beradaptasi dan memanfaatkan waktu kosong untuk belajar.

“Jadi kelas X, XII online masih bisa membagi waktu kalau mau belajar bisa kapan saja. Kalau kelas XII semester 1 di asrama jadi adaptasi dan di asrama dikasih waktu jam 06.00 dan 07.00 dan setelah itu acara bebas, namun biasanya dimanfaatkan untuk belajar,” kata Laras.

Bukannya tidak mensyukuri diterima dijurusan kimia UGM. Laras mengakui sebenarnya ia ingin di jurusan farmasi. Namun  melihat fakta belum ada alumni yang ada di jurusan farmasi Laras pun mengurungkan niatnya dan mencoba meminta saran dari orang terdekat salah satunya keluarga.

“Karena alumni belum masuk di farmasi UGM jadi aku waktu itu kaya kecil hati ya aku tidak bisa masuk di jurusan yang aku inginkan. Awalnya idealis tapi aku minta saran salah satunya dari tante. “Tapi namanya masih muda masih idealis dan akhirnya cari saran-saran dari orang. Akhirnya aku riset lebih lanjut jurusan UGM dan mendekati farmasi. Ternyata angkatan di atasku ada yang sudah masuk kimia murni dari hasil tes," Laras.

Di balik perjuangan untuk lolos SNBP, tentunya ada motivasi yang membuat Laras berjuang salah satunya untuk meringankan beban orang tua. Mengingat, biaya kuliah yang tidak murah. Laras pun berusaha untuk giat belajar untuk menuju perguruan tinggi negeri.

Terakhir, Laras berpesan untuk teman-teman yang ingin mendaftar SNBP tahun depan, perjuangan dimulai dari kelas X. Selain itu, harus yakin kalau bisa asalkan jangan lengah belajar. Ia juga berpesan kepada temen-teman yang belum diterima SNBP terus semangat dan pantang menyerah.(H-1)

BERITA TERKAIT