07 April 2022, 10:00 WIB

Tingkatkan Kehidupan Anak Yatim & Dhuafa Lewat UMKM


Muhammad Zen | Humaniora

MI/R.Muhammad Zen
 MI/R.Muhammad Zen
Ibu-ibu membuat kerajinan dari anyaman bambu di Istana Yatim Baitul Qurro, Bogor.

JALANAN tanah bercampur bebatuan yang keras dan tak terlalu lebar terlihat memanjang di sepanjang jalan. Pemandangan hamparan sawah yang luas membuat mata seolah memandang tanpa batas. Panas memang. Namun, pepohonan bambu yang rimbun, tepat berdiri di samping bangunan panggung yang terbuat dari kayu dan beratap daun pelepah pohon kelapa yang mulai berlubang, membuat teriknya matahari terasa lebih bersahabat. Sesekali nyanyian burung-burung terdengar saling bersahutan di antara dahan-dahan pepohonan.

Nuansa pedesaan kental terasa di Istana Yatim Baitul Qurro, Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat tersebut. Lokasi bernaung seratusan lebih anak-anak yatim dan piatu belajar mengaji.

Lantunan ayat suci Al-Quran sayup-sayup terdengar, dibarengi suara anak-anak yang terdengar seirama,  kompak mengikuti, seolah sedang berlatih paduan suara. "Tab bat yadaa abii Lahabinw-wa tabb. Maa aghna 'anhu maaluhu wa ma kasab. Sa yas laa naran zaata lahab. Wam ra-atuh hamma latal-hatab. Fii jiidiha hab lum mim-masad." (QS. Al-Lahab)

Ayya, demikian dia biasa disapa, sejak 2017 mendirikan Istana Yatim Baitul Qurro untuk membantu anak-anak di sekitar rumah belajar mengaji. Istana yang alasnya terbuat dari kayu, dinding bilik dari bambu dan beratapkan daun pelepah pohon kelapa, memiliki luas sekitar 100m persegi.

Tumpukan buku-buku bacaan  dan majalah anak-anak islami, serta puluhan Al-Quran tersusun rapih di lemari kecil sebelah kiri dan kanan pojok ruangan, serta papan white board yang berada persis di tengah. Tak lupa deretan meja kecil melengkapi ruang belajar sederhana itu.

Tanpa memungut biaya, walaupun hanya seorang guru honorer di sebuah sekolah di desanya. Ayya tetap bersemangat memberikan pelajaran mengaji dan menyampai cerita-cerita sejarah islam kepada anak-anak.

“Dulu ada anak yang sempat berhenti belajar ngaji. Setelah saya periksa, ternyata anak itu menangis karena di rumah tidak ada nasi yang bisa dimakan.” Ujar Ayya yang bernama lengkap Susi Damayanti itu.

Awalnya hanya beberapa anak saja yang dibantu, namun seiring berjalannya waktu saat ini total ada sekitar 111 anak yatim dan piatu, anak putus sekolah yang berusia 4 hingga 15 tahun, serta 21 dhuafa lanjut usia yang ikut bergabung.

Akhirnya jadwal pun mulai diatur, anak-anak dibagi beberapa kelompok agar dalam proses belajar mengajar menjadi lebih baik. Tidak hanya mengaji, bersama kenalannya, ibu dari Berliana Hasna Fida yang baru berusia satu tahun itupun setiap Jumat mengadakan tausiah dan menggelar Jumat Berkah.

Selain itu para anak binaan diberikan pelajaran tambahan seperti matematika dan bahasa Inggris pada setiap Sabtu oleh relawan Istana Baitul Qurro. Semua diberikan secara gratis.

Sebelumnya, untuk menunjang biaya operasional Istana Yatim, Ayya yang mendapatkan dukungan penuh dari suaminya Yayat Supriatna, yang juga seorang guru honorer itu, menggunakan uang pribadi untuk kebutuhan belajar anak-anak binaan.

Namun, untuk menunjang kebutuhan yang semakin meningkat,  ibu muda yang lulusan sarjana pendidikan agama Islam ini,mengajak anak-anak serta ibu-ibu lanjut usia untuk mengikuti pelatihan usaha mikro kecil menengah (UMKM), yakni merajut dan membuat kerajinan dari anyaman bambu.

Lumayan, barang-barang rajutan yang dihasilkan bisa berupa tas selempang dan tas gantungan untuk telepon genggam. Sedangkan hasil dari anyaman bambu berupa bakul nasi, kipas, topi.

Semua barang-barang tersebut lalu dijual secara daring lewat akun sosial media yang dimiliki. Dan hasil penjualan biasa dibagikan lagi kepada semua anak-anak yatim dan piatu serta dhuafa lanjut usia berupa uang dan atau sembako. Biasa dilakukan setiap hari Jumat (Jumat Berkah).­

Nia, salah satu anak binaan yang tinggal di desa yang sama tak bisa menyembunyikan kegembiraannya atas keberadaan Istana Yatim Baitul Qurro, karena selain bisa menimba ilmu juga bisa belajar kreatifitas dengan membuat barang rajutan dan anyaman dari bambu.

‘’ Selain belajar mengaji, matematika dan Bahasa Inggris, saya senang banget karena bisa belajar membuat anyaman tas bersama teman-teman disini’’, ungkap Nia yang saat ini berusia 12 tahun tersebut.

Atas usahanya memberdayakan anak-anak binaan dan warga lanjut usia dalam membuat barang-barang kerajinan anyaman bambu yang juga warisan budaya di desa tersebut, Ayya diganjar penghargaan sebagai “Pemuda Pelopor Tingkat Kabupaten Bogor” mengalahkan peserta dari 40 kecamatan oleh pemerintah kabupaten setempat. Hebat!

Sama hebatnya seperti cita-cita yang digantungkan Ayya kepada Tuhannya. Yakni, ingin Istana Yatim Baitul Qurro di masa depan bisa lebih maju dan bisa mensejahterakan anak-anak binaan dan dhuafa lanjut usia,  terutama dalam bidang pelayanan untuk kesejahteraan sosial. Karena saat ini memang segala pembiayaan dan operasional yang masih jatuh bangun hanya mengandalkan UMKM.

Ayya berharap suatu saat nanti Istana Yatim Baitul Qurro bisa menjalin kerjasama dengan berbagai pihak agar kedepannya anak-anak binaan pun bisa sekolah setinggi-tingginya, seperti sampai ke perguruan tinggi.

‘’Allah tidak tidur, dengan niat yang baik diiringi usaha dan do’a, semua pasti bisa terjadi. Aaminn’’. Pungkas Ayya dengan penuh senyum. (Zen/OL-7)

VIDEO TERKAIT :

BERITA TERKAIT