01 November 2022, 18:25 WIB

Kekuatan Masyarakat Sipil Dapat Tingkatkan Pembangunan yang Inklusif


Dinda Shabrina | Humaniora

Ist
 Ist
EU-Indonesia Civil Society Forum bertema 'Mempromosikan Lingkungan yang Mendukung bagi Organisasi Masyarakat Sipil di Indonesia'.

NEGARA-negara di dunia menyadari bahwa Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) menghadapi tantangan berupa mengecilnya ruang-ruang mereka untuk turun serta dalam pembangunan negara. Untuk itu, delegasi Uni Eropa (UE) untuk Indonesia bersama beberapa komunitas dan organisasi nirlaba berkomitmen memperkuat gerakan masyarakat sipil untuk turut berperan dalam meningkatkan pemerintahan yang demokratis, pembangunan yang berkelanjutan, serta pertumbuhan yang inklusif.

"Masyarakat sipil yang aktif dan berdaya diperlukan untuk menciptakan kebijakan yang lebih efektif, mendorong pembangunan yang adil dan berkelanjutan serta meningkatkan pertumbuhan yang inklusif. Menjamin lingkungan yang kondusif bagi OMS adalah tanggung jawab bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Duta Besar Uni Eropa, H.E Vencent Piket dalam EU-Indonesia Civil Society Forum bertema "Mempromosikan Lingkungan yang Mendukung bagi Organisasi Masyarakat Sipil di Indonesia" di Jakarta, Selasa (1/11).

Hal senada disampaikan Ketua Komunitas Dialisis Indonesia, Tony R. Samosir. Ia menyampaikan kekuatan masyarakat sipil mampu menciptakan kebijakan yang memberikan kesejahteraan.

“Contohnya seperti telah digratiskannya transplantasi ginjal untuk pengguna BPJS. Kita dulu kalau mau transplantasi ginjal harus bayar. Dan bayarnya mahal sekali. Tetapi karena saya dan komunitas saya terus bersuara dan mendorong agar ini bisa gratis. Akhirnya kita tercapai juga,” ungkap Tony.

Terlebih, kata Tony, saat ini kasus gagal ginjal misterius pada anak sedang ramai. Ia menekankan agar masyarakat sipil mau berkontribusi untuk memberikan suara dan perhatiannya untuk sektor-sektor tertentu yang dibutuhkan untuk mengubah tatanan sosial.

“Kita harus bersama-sama. Kalau dulu saya cuma teriak-teriak sendiri, bergerak sendiri, mungkin akses transplantasi ginjal masih berbayar sampai hari ini. Tapi karena saya, yang punya kepentingan, karena saya ini punya penyakit ginjal, saya bergerak dan tidak ingin kesusahan yang saya rasakan ini juga dirasakan orang lain. Karena itulah saya bergerak dan mengajak teman-teman lainnya untuk kemudahan kita semua,” pungkas Tony. (OL-15)

BERITA TERKAIT