05 October 2022, 06:30 WIB

Setelah Menopause, Perempuan Berisiko Tinggi Alami Sakit Jantung


Basuki Eka Purnama | Humaniora

journal.sociolla.com
 journal.sociolla.com
Ilustrasi

DOKTER dari Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk Muhammad Sany Armansah mengatakan perempuan yang sudah menopause berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dibandingkan perempuan yang masih dalam usia subur.

"Perempuan memiliki hormon estrogen yang dapat melindungi pembuluh darah. Tapi pada usia lanjut, sesudah terjadi menopause, kadar estrogen turun dan ini jadi pemicu perempuan menderita penyakit jantung," kata Sany dalam acara kesehatan yang digelar virtual, dikutip Rabu (5/10).

Dengan demikian, menurut Sany, baik laki-laki maupun perempuan sebenarnya memiliki risiko yang sama besarnya terhadap penyakit jantung. Jika pada laki-laki biasanya dipengaruhi oleh gaya hidup seperti kebiasaan merokok, maka pada perempuan risikonya akan meningkat jika sudah mengalami menopause.

"Laki-laki dan perempuan sebetulnya memiliki kesempatan yang sama besar untuk memiliki penyakit jantung. Jika dilihat misalnya faktor risikonya merokok. Laki-laki lebih banyak merokok, berarti laki-laki menderita penyakit jantung lebih banyak. Tapi ternyata tidak semata-mata demikian," tutur Sany.

Pada usia produktif (subur), kadar estrogen dalam tubuh perempuan membuat pembuluh darah lebih fleksibel sehingga aliran darahnya jauh lebih baik daripada laki-laki yang tidak memiliki estrogen. Tapi kan ketika sudah menopause, kadar estrogennya turun," sambungnya.

Selain itu, lanjut dia, perempuan yang mengonsumsi KB hormonal juga dapat memicu darah tinggi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko terkena penyakit jantung.

Untuk itu, Sany menyarankan agar melakukan cek kesehatan secara rutin. Apalagi jika memiliki berbagai faktor risiko seperti darah tinggi, diabetes, merokok, konsumsi alkohol, obesitas, kolesterol tinggi, dan keturunan atau riwayat keluarga.

Ia juga menganjurkan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan jika mengalami gejala khas seperti nyeri dada sebelah kiri yang menjalar ke lengan hingga leher, nafas pendek, hingga irama jantung yang terlalu cepat atau terlalu lambat.

"Ada dua macam pemeriksaan, invasif dan noninvasif. Tapi yang paling sering kita temui yang standar di pelayanan kesehatan adalah yang noninvasif, alatnya di luar, tidak dimasukkan ke dalam tubuh. Karena kalau yang invasif biasanya sudah spesialistik, dipegang oleh spesialis jantung dan pembuluh darah," kata Sany.

"Yang biasa kita temui di fasilitas kesehatan tingkat pertama yaitu di Puskesmas atau klinik, itu biasanya ada perekaman jantung atau elektrokardiogram (EKG). Dari situ hasilnya akan dibaca oleh dokternya apakah ada kelainan," tutup dia. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT