30 September 2022, 09:18 WIB

PLTS di Lingkungan DPR Turut Memperhatikan Keindahan Taman


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist/DPR
 Ist/DPR
Panel surya di Taman Energi DPR RI. 

Ketua DPR RI Puan Maharani mengungkapkan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lingkungan DPR turut memperhatikan keindahan taman-taman dan suasana hijau. Puan menjelaskan, pembangunan tidak boleh merusak esensi DPR sebagai bangunan bersejarah.

“Dan sebagai rumah rakyat, kita ingin tamu dan pengunjung yang datang dapat tetap merasa nyaman dan bisa merasakan keindahan Gedung DPR,” ungkap Puan dalam pers rilis, Kamis (29/9).

Ia mengatakan, PLTS di kompleks DPR dapat dipamerkan kepada delegasi-delegasi G20 Parliamentary SpeakersSummit (P20) yang akan datang pekan depan. 

DPR akan menjadi tuan rumah perhelatan P20 yang menjadi rangkaian dari KTT G20. “Indonesia harus bisa menunjukkan komitmennya dalam menerapkan strategi pembangunan hijau atau rendah karbon dalam upaya mengurangi emisi yang sudah menjadi kebijakan dunia,” sebut Puan.

Baca juga: DPR Hijau Sebagai Aksi Memerangi Krisis Iklim

Politikus Fraksi PDI-Perjuangan itu memang terus menyuarakan pentingnya kerja sama dalam mencapai SDG’s di berbagai forum internasional, termasuk dalam hal pembangunan hijau. Seperti saat Puan menjadi Ketua Majelis Sidang Umum forum Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-144 yang diselenggarakan bulan Maret lalu.

Di Sidang Umum IPU ke-144, DPR mengambil tema perubahan iklim sebagai tuan rumah. Dalam berbagai kesempatan, Puan selalu mengingatkan negara-negara dunia agar beraksi nyata merealisasikan konsep ekonomi hijau untuk menunjang SDG’s.

“Sebenarnya DPR sudah memulai praktik mengatasi krisis iklim dengan berbagai aksi nyata. Seperti mengurangi penggunaan botol plastik. Kami juga mulai paperless dalam pekerjaan untuk meminimalis pemakaian kertas,” ucap Puan. 

IPU ke-144 menyepakati komitmen untuk memerangi perubahan iklim melalui Deklarasi Nusa Dua.

Forum parlemen internasional itu sepakat krisis iklim harus segera ditanggulangi karena merupakan ancaman eksistensial bagi umat manusia sehingga tindakan segera harus diambil untuk meminimalkan dampak terburuknya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT