28 September 2022, 19:54 WIB

Kebesaran Allah Al-Azhim Bersifat Mutlak tidak Dapat Dibandingkan


Meilani Teniwut | Humaniora

DOK Instagram.
 DOK Instagram.
Tulisan Arab Al-Azhim.

SEKARANG kita bahas salah satu asmaul husna atau nama-nama terbaik Allah yaitu Al-Azhim. Secara bahasa, Al-Aẓhīm punya arti sesuatu yang besar atau agung. 

Imam Ghazali, dalam kitab al-Maqshad al-Asna, membuat perincian makna asmaul husna Al-Azhim. Berikut detail makna asmaul husna Al-Azhim sebagaimana dilansir @limofficial_lirboyo di Instagram.

Besar di pandangan

Sesuatu yang besar, apabila dinisbatkan pada pandangan manusia, adakalanya berupa sesuatu yang seluruh sisinya bisa dijangkau pandangan mata. Misalnya gajah. Gajah ialah sesuatu yang besar, tetapi kebesaran gajah tidak melampaui bingkai pandangan mata. 

Selanjutnya, adakalanya sesuatu yang besar itu tidak mampu digapai pandangan mata secara keseluruhan. Langit ialah contohnya. 

Kita bisa melihat langit, tetapi tak lebih sekadar satu sisinya. Sisi lainnya luput dari tatapan kita.

Sesuatu yang besar itu ada pula yang mampu dijangkau oleh segelintir orang saja, seperti 'arsy, kursiy, lauh, qalam, dan ruh. 'Arsy ialah sesuatu yang besar. Namun, tidak semua mata bisa memandangnya. 

Besar yang mutlak

Yang terakhir, ada sesuatu yang besar, tetapi sama sekali tidak bisa dijangkau pandangan mata. Inilah yang disebut al-Aẓhim al-Muthlaq. 

Baca juga: Asmaul Husna: Allah Al-Halim Maha Toleran kepada Pelaku Maksiat

Hanya ada satu yang terbilang al-Aẓhīm al-Muthlaq, yakni Allah SWT. Kebesaran Allah SWT tidak sanggup dijangkau pandangan mata serta tidak mampu dilampaui apa saja.

Segala sesuatu selain Allah SWAT yang diasumsikan besar tidaklah bersifat hakiki, melainkan besar hanya karena dinisbatkan pada benda lain yang berukuran lebih kecil darinya. Sedangkan kebesaran Allah SWT bersifat mutlak yang bukan disebabkan perbandingan dengan sesuatu yang lain. 

Terdapat hamba-hamba Allah SWT yang pantas disifati al-Aẓhim. Mereka ialah orang-orang yang disegani sebab sifat-sifat mereka yang mulia. Mereka, tak lain dan tak bukan, ialah para nabi dan ulama. (OL-14)

BERITA TERKAIT