26 September 2022, 11:15 WIB

Cara Kreatif Menguatkan Eksistensi Bahasa Daerah


Faustinus Nua | Humaniora

FOTO ILUSTRASi/ ANTARA/ Rivan Awal Lingga
 FOTO ILUSTRASi/ ANTARA/ Rivan Awal Lingga
BAHASA DAERAH: Suasana sebuah kedai kopi di DKI Jakarta. Badan Bahasa memanfaatkan layanan kedai dengan penggunaan bahasa daerah.

DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia dikenal sebagai kawasan kuali peleburan (melting pot). Beragam bahasa dan budaya hadir di kota ini sebagai hasil dari interaksi budaya, pernikahan lintas suku bangsa hingga masuknya berbagai pengaruh asing. Namun, hal itu kurang diimbangi dan tidak ada wadah atau ruang yang memadai bagi generasi muda DKI Jakarta untuk mengekspresikan keragaman bahasa dan budaya asal mereka.

Berawal dari kesadaran, Duta Bahasa DKI Jakarta menghadirkan sebuah inovasi bernama 'Kedai Kopi Multilingual'. Program ini hadir di berbagai kedai kopi di lima daerah administratif DKI Jakarta. Bahasa daerah akan digunakan dalam proses pelayanan dan pemesanan makanan dan minuman di kedai-kedai kopi tersebut.

“Pembeli yang datang akan ditanya kesediaannya untuk memesan menggunakan bahasa daerah. Apabila berkenan, proses pemesanan akan menggunakan bahasa daerah pilihan di kedai kopi tersebut. Tim kami telah menyediakan petunjuk pemesanan dalam bahasa daerah,” terang Daffa Aqilah, Duta Bahasa DKI Jakarta 2022, Minggu (25/9) petang.

Pada tahap pertama, program Kedai Kopi Multilingual dilaksanakan selama satu pekan pada tanggal 25 September—1 Oktober 2022 dengan menggandeng dua kedai kopi, yakni Kedai Kopi Luvium (Jakarta Utara) dan Kedai Kopi Iro (Jakarta Selatan). Turut hadir di acara peluncuran, Kepala Cabang Kedai Kopi Luvium Warakas, Alif Fahrezi. Menurutnya, program Kedai Kopi Multilingual menjadi sebuah gebrakan yang sangat bermanfaat, khususnya bagi para perantau di kawasan Jakarta Utara.

“Pelanggan yang datang ke kedai kami berasal dari berbagai daerah Indonesia. Suatu hal yang menarik ketika kami bisa melayani pelanggan menggunakan bahasa daerah mereka berasal,” ungkap Alif Fahrezi.

Guna mewujudkan pelayanan yang juga ramah bagi teman tuli, kegiatan peluncuran Kedai Kopi Multilingual turut diwarnai dengan aksi belajar bahasa isyarat dasar bersama para pengunjung.

“Sebagai bentuk inklusivitas, kami juga mengadakan sosialisasi Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI). Kami percaya bahwa penggunaan bahasa untuk berkomunikasi harus bersifat inklusif. Sejauh ini, antusiasme pengunjung untuk belajar bahasa Isyarat sangat tinggi,” tutup Akbar Renaldy, Ketua Ikatan Duta Bahasa DKI Jakarta.

Kedai Kopi Multilingual sendiri merupakan wujud nyata dari pengembangan program Revitalisasi Bahasa Daerah telah diluncurkan Kemendikbud-Ristek dalam Merdeka Belajar episode 17 pada bulan Februari 2022. Melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) kementerian menggandeng berbagai pihak termasuk para generasi muda.

Adapun, Ikatan Duta Bahasa DKI Jakarta merupakan mitra Badan Bahasa. Sebagai Duta Bahasa DKI mereka adalah generasi muda yang telah menempuh seleksi dan pelatihan demi mewujudkan kepedulian terhadap pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia serta pelestarian bahasa daerah. Berbagai program telah dilaksanakan untuk menyampaikan informasi kebahasaan dan kesastraan bagi seluruh lapisan masyarakat.(H-1)

BERITA TERKAIT