15 September 2022, 10:58 WIB

Pakar Ingatkan 5 Hal baru Tentang Cacar Monyet yang Perlu Diketahui


Dinda Shabrina | Humaniora

Ilustrasi
 Ilustrasi
Cacar monyet.

PIMPINAN Governing Board Meeting SEAMEO TROPMED, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan saat ini masyarakat sudah banyak yang tahu tentang penyakit Cacar Monyet, baik dari gejala, penularan, hingga vaksinnya. Namun, ada hal baru yang terungkap dalam simposium SEAMEO TROPMED yang tak diketahui banyak pihak.

Baca juga: Ayo Mengenal ASN, yang Ternyata Berbeda dari PNS

“Kita sudah ketahui bersama bahwa sebagian besar kasus di dunia saat ini disebabkan oleh virus cacar monyet jenis/clade II, tepatnya clade IIB yang memang lebih ringan dampaknya daripada clade I yang tadinya banyak terjadi di Afrika,” kata Tjandra, Kamis (15/9). 

“Dari diskusi, ternyata sebagian kasus di Thailand bukanlah Clade II, jadi memang mungkin saja virus dengan clade yang tidak ringan juga beredar saat ini. Ini perlu jadi perhatian pada 9 suspek kita yang sekarang sedang diperiksa laboratoriumnya,” tambah dia.

Selain itu, Tjandra mengungkapkan, virus cacar monyet dilaporkan dapat menembus sawar plasenta. “Artinya, kalau ada ibu hamil yang sakit maka akan berdampak ke bayinya,” ujar Tjandra.

Anjuran WHO agar setiap kontak di monitor selama 21 hari. Tjandra berharap hal yang sama juga dilakukan kepada kontak dari satu kasus di Indonesia. 

“Mereka dapat tetap beraktifitas, tetapi dalam pengawasan, dan tidak boleh melakukan donor darah atau donor organ lain dalam 21 hari sejak ada kontak dengan pasien cacar monyet,” ucap Tjandra.

Sudah diketahui sebelumnya bahwa petugas kesehatan dapat tertular. Data WHO di dunia sejauh ini menunjukkan angkanya 4,5% dari total kasus, dan secara jelas setidaknya tiga orang petugas kesehatan tertular pada waktu merawat pasien cacar monyet.

“Data WHO juga menyebutkan bahwa lebih dari 90% kasus terjadi penularan pada kelompok ‘male sex with male’ (MLM) dan sekitar 40% kasus adalah HIV (+). Tetapi, data dari negara-negara WHO Asia Tenggara menunjukkan ada 2 kasus MSM dan 4 kasus heterosexual. Selain itu, di negara WHO Asia Tenggara 9 kasus adalah ada riwayat perjalanan dari luar negeri dan 8 kasus adalah sepenuhnya lokal,” jelas Tjandra.

Meski kasus dunia ada kecenderungan sedikit menurun, tetapi Tjandra mengingatkan agar Indonesia tetap perlu waspada. 

“Setidaknya lima hal yang tetap perlu kita lakukan, yaitu komunikasi risiko, surveilans epidemiologi, diagnosis dan penanganan kasus, pencegahan penularan berkelanjutan dan ketersediaan vaksin,” tandasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT