13 September 2022, 12:27 WIB

Moeldoko: Menjaga Budaya Kunci Pemulihan Dunia


Andhika Prasetyo | Humaniora

ANTARA FOTO/Anis Efizudin
 ANTARA FOTO/Anis Efizudin
Candi Borobudur

KEPALA Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan pentingnya menjaga kebudayaan sebagai salah satu kunci pemulihan dunia.

Indonesia pun mengambil peran tersebut dalam Presidensi G20, terutama pada Pertemuan Tingkat Menteri Kebudayaan Negara Anggota G20 pada 11-13 September 2022.

"Indonesia mencoba menunjukkan bagaimana budaya bisa ambil bagian dalam pemulihan dunia, sesuai dengan tema presidensi kita, Recover Together, Recover Stronger,” ujar Moeldoko dalam keterangan resmi, Selasa (13/9).

Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan menggelar pertemuan tingkat menteri di Borobudur. Kawasan Borobudur dipilih karena memiliki arti khusus. Situs bersejarah itu adalah warisan budaya dunia, satu dari sekian keajaiban dunia yang memiliki banyak aspek menarik. Bukan hanya candinya, tapi juga ragam masyarakat dan budayanya.

Dari relief Candi, menurut Moeldoko, dunia bisa melihat peradaban satu masa dimana warga bisa hidup harmoni dengan sesama manusia dan alam semesta.

“Kita semua bisa belajar praktik hidup berkelanjutan yang ada dalam tradisi Indonesia sebagai jawaban atas tantangan pemulihan masalah kesehatan, ekonomi dan lingkungan,” ucap mantan panglima TNI itu.

Baca juga: Moeldoko: Sorgum bakal Dibudidayakan di Daerah Kering

Final Official Meeting dan Pertemuan Menteri Kebudayaan G20 di Kompleks Candi Borobudur di Magelang berlangsung pada 11-13 September 2022.

Pertemuan itu bertema Culture for Sustainable Living atau Kebudayaan untuk Bumi Lestari. Setidaknya ada lima agenda prioritas yang dibahas yaitu peran budaya sebagai enabler dan pendorong pembangunan berkelanjutan serta manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan dari kebijakan berbasis budaya.

Selain pertemuan utama, juga digelar berbagai acara budaya di Kompleks Candi Borobudur dan sekitarnya. Antara lain festival media baru 'Indonesia Bertutur', Orkestra G20, Kirab Budaya, dan Rapat Raksasa (Majelis Umum) yang melibatkan 2.500 seniman, seniman budaya, dan publik Indonesia dan internasional.(OL-5)

BERITA TERKAIT