06 September 2022, 17:12 WIB

Ancaman Mikroplastik bagi Lingkungan dan Kesehatan Terus Meningkat


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist
 Ist
Talkshow dengan judul “Sambil Menyelam Minum Sampah?” di Pameran Deep and Extreme 2022, Hall A Jakarta Convention Center (JCC).

INDONESIA sudah dikenal dunia sebagai salah satu destinasi wisata bahari yang paling banyak diminati oleh wisatawan mancanegara.

Kekayaan laut inilah yang menarik minat para penggiat wisata bahari, khususnya para penyelam untuk datang ke Indonesia dan menjelajahi alam bawah laut Indonesia.

Sayangnya, seiring semakin banyaknya aktivitas manusia baik di darat maupun dilaut sangat berpengaruh kepada kelestarian laut.

Maka dari itu, Divers Clean Action (DCA) menghadirkan Talkshow dengan judul “Sambil Menyelam Minum Sampah?” di Pameran Deep and Extreme 2022, Hall A Jakarta Convention Center (JCC) pada Minggu (4/9).

Talkshow ini sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat, khususnya para penyelam, terkait ancaman mikroplastik terhadap lingkungan, aktivitas penyelaman serta dampaknya bagi kesehatan masyarakat di panggung utama pameran Deep and Extreme 2022.

Dalam keterangan pers, Selasa (6/9), M. Reza Cordova, peneliti Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memaparkan hasil penelitian lapangan dari program MicroSEAP, program kolaborasi antara BRIN, DCA dan Burung Indonesia dengan University of Portsmouth, UK.

MicroSEAP adalah sebuah program riset kolaborasi untuk mendapatkan data terkait bagaimana mikroplastik memberikan dampak pada perairan, biota laut, serta memberikan rekomendasi terkait kebijakan di Indonesia dalam sudut pandang regional ASEAN.

Baca juga: Program Sampah Plastik Tukar Beras dari Sinar Mas Land Raih Penghargaan

Reza menyampaikan, “Menggunakan metode pemodelan yang juga dilakukan oleh pemerintah Indonesia, hasil riset Science Advances pada tahun 2021 menemukan bahwa saat ini Indonesia menduduki peringkat kelima, dari sebelumnya peringkat kedua, penyumbang sampah ke lautan dunia."

"Diperkirakan, lebih dari 500.000 ton sampah bocor ke laut setiap tahunnya," jelasnya.

"Namun, tingkat mikroplastik yang ditemukan baik di air, sedimen, dan biota laut semakin meningkat. Contohnya, pada sampel kerang hijau di Jakarta, telah meningkat dari 70% mengandung mikroplastik sekarang sudah 100%. Selain itu tidak hanya di air, namun juga di udara Jakarta, mikroplastik sudah ditemukan,” papar Reza.

Dari sudut pandang kesehatan, plastik ternyata memiliki dampak buruk untuk tubuh manusia.

“Menyambung yang sudah disampaikan Pak Reza, maka mikroplastik bisa masuk ke tubuh manusia melalui saluran pencernaan dan pernapasan," kata ujar nutrisionis Dr. Rita Ramayulis, DCN, MKes.

"Jika mikroplastik sudah masuk ke dalam tubuh, cara menurunkan efek dan risiko seperti menjadi penyebab kanker dan gangguan organ reproduksi, dan atau penyakit lainnya adalah kita dapat meningkatkan barrier tubuh kita agar dapat mengeluarkan mikroplastik yakni: meningkatkan kesehatan pencernaan, meningkatkan fungsi sel-sel imunitas, dan meningkatkan pengeluaran cairan melalui urin dan keringat,” papar Rita Ramayulis.

Aktivitas manusia, termasuk kegiatan pariwisata berpotensi menghasilkan sampah dan tentu saja bisa berdampak buruk bagi kebersihan dan kelestarian lingkungan dan dirasakan pula oleh para penikmat wisata selam, diving influencer dan travel blogger.

Diving influencer dan travel blogger, Marischka Prudence, mengatakan,“Influencer dapat mengajak untuk mengurangi dan menanggulangi sampah melalui konten yang menarik, namun aksi bersih-bersih saja memang tidak cukup. Hal ini harus dibarengi dengan dukungan pemerintah melalui kebijakan dan implementasi yang tegas.”.

Hal ini juga didukung influencer Febrian, “Melihat pengalaman saya berkeliling Indonesia, memang peraturan terkait sampah belum merata dan belum tersosialisasi dengan baik sehingga kampanye tidak dapat maksimal dilakukan untuk mendorong perubahan perilaku baik wisatawan dan penduduk lokal”.

“Sehingga ketika mengedepankan peraturan merata dan perubahan perilaku yang baik dari seluruh lapisan masyarakat, kita tidak lagi menyelam sambil minum sampah,” kata Febrian sebagai penutup dari talkshow .

"Kembalinya aktivitas pariwisata setelah menurunnya pandemi Covid-19 merupakan hal yang kita rayakan, tapi perlu kita ingat bahwa seiring dengan ini adanya potensi peningkatan sampah plastik yang dapat mencemari lautan kita dan biota di dalamnya," paparnya..

Pelestarian lokasi wisata untuk mencegah dampak buruk sampah ke lingkungan dan kesehatan manusia harus dilakukan setiap penyedia jasa wisata, penikmat wisata bahari, dan seluruh masyarakat Indonesia.

"Jadi, mari kita mengurangi dan memilah sampah dari rumah dan saat berwisata agar di masa yang akan datang kita tidak akan semakin banyak menelan sampah plastik ke tubuh kita secara tidak sengaja saat menyelam," jelasnya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT