31 August 2022, 10:05 WIB

Perpusnas: Orang-orang di Desa tidak Cukup hanya Diberi Buku


Zubaedah Hanum | Humaniora

Antara
 Antara
Relawan membacakan buku dongeng ke warga Desa Bangoan, Tulungagung, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

KEPALA Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando menyerukan agar literasi di Indonesia bukan sekadar retorika, tapi praktik. Perpusnas mengajak semua kalangan menjadi influencer dalam meningkatkan literasi anak bangsa.

Hal itu disampaikannya dalam webinar Urban-20 (U20) Side Event dengan tema Enabling Cities, Caring Cities yang  diselenggarakan secara hibrid oleh Perpusnas, kemarin.

Dari catatan Bappenas dan BPS, kata Syarif, hanya 10% warga Indonesia yang mengenyam ijazah S-1. Sedangkan, sebanyak 90% lainnya hanya memegang ijazah pendidikan umum dan mereka terjun sebagai kepala keluarga, ibu rumah tangga yang harus dididik.

"(Karena itu) Kita harus menjadi influencer. Orang-orang di desa tidak cukup hanya dikasih buku untuk membaca. Mereka bingung. Kita yang harus kasih tahu ini loh cara menanam padi, cara menanam kelapa," ujarnya.

Menyampaikan pengetahuan atau transfer knowledge ini, imbuhnya, juga menjadi tugas utama perpustakaan di saat ini.

Direktur Kebijakan dan Advokasi International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) Stephen Wyber mengatakan, perpustakaan berperan penting untuk mempersiapkan SDM di sebuah negara dalam menghadapi persaingan global. Perpustakaan juga harus mengajarkan pengetahuan tentang kearifan lokal dan pengetahuan modern.

"Kedua pengetahuan tersebut mampu menciptakan masyarakat yang berpengetahuan, inovatif, dan aktif," katanya. (Ant/H-2)

BERITA TERKAIT