23 August 2022, 10:43 WIB

Ayo Kurangi Limbah Makanan


Basuki Eka Purnama | Humaniora

ANTARA/Fauzan
 ANTARA/Fauzan
Petugas catering membersihkan sampah sisa makanan acara resepsi di Jatake, Kota Tangerang, Banten.

LIMBAH yang dihasilkan dari sisa-sisa makanan tanpa disadari memberikan dampak yang buruk terhadap kerusakan lingkungan, padahal sampah makanan sebenarnya dapat diolah kembali.

Badan Pangan Nasional atau Bapanas mencatat total kerugian dari limbah makanan atau Food Loss and Waste (FLW) di dalam negeri pada 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun. Volume tersebut setara dengan Rp213 triliun sampai Rp551 triliun per tahun.

Saat ini, FLW menjadi perhatian serius negara-negara di dunia. Berdasarkan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12 poin ke-3, negara-negara di dunia diharapkan dapat mengurangi 50% limbah makanan per kapita di tingkat retail dan konsumen pada 2030.

Baca juga: Limbah Sisa Makanan di Bali Rata-Rata 150 Kilo Perhari/TPS

Indonesia sendiri merupakan penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia. Ini tidak lepas dari kebiasaan menyisakan makanan, lantaran berlebihan dalam mengonsumsi ataupun memilih produk yang tampilannya cantik.

Chef and Indonesian Food Ingredients Researcher Ragil Imam Wibowo mengatakan restoran tertentu menyediakan makanan dengan tampilan yang menarik.

Akan tetapi, sebagian makanan atau potongan yang tidak diperlukan akan dibuang begitu saja, tanpa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain.

Tidak hanya itu, banyak orang yang mengambil makanan tanpa memperhitungkan kemampuan tubuh dalam menerima. Akhirnya, banyak makanan yang tidak dihabiskan dan terbuang percuma.

Biasanya ini terjadi pada restoran atau hotel yang menerapkan konsep prasmanan. Menurut Ragil, di Indonesia masih jarang restoran yang menerapkan sistem denda jika makanan yang telah diambil tidak habis.

Chef Ragil pun menyarankan agar masyarakat memulai kesadaran untuk tidak membuang makanan.

"Makan sesuai yang kita mau makan, jangan mubazir. Makan secukupnya, tidak overeating," ujar Chef Ragil, dikutip Selasa (23/8).

Lebih lanjut, Chef Ragil mengatakan, saat makan bersama dengan rekan atau keluarga, sebisa mungkin untuk memesan makanan meja atau sharing sehingga bisa memilih beberapa menu dan risiko membuang makanan sisa berkurang.

Selain itu, saat penting untuk mengetahui apa yang dibutuhkan adalah saat berbelanja bahan makanan. Hal ini berguna mencegah keinginan konsumtif yang berujung pada membuang makanan.

Chef Ragil juga mengatakan masyarakat perlu belajar mengolah sisa makanan di rumah. Sebab, tidak semua sampah makanan harus menjadi kompos.

"Potongan sayur atau buah bisa dijadikan makanan lain. Sayur bisa jadi sup, curry, atau gunakan untuk makanan lain," katanya.

Ampas kopi juga bisa diolah menjadi pupuk, lilin, scrub, gelas kopi, piring, hingga arang. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT