13 August 2022, 15:20 WIB

BRIN Sebut Embun Beku Papua Berpotensi Berlanjut


Dinda Shabrina | Humaniora

MI/Lilik Darmawan
 MI/Lilik Darmawan
Ilustrasi embun beku

FENOMENA embun beku menyerang perkebunan di kawasan pegunungan Lanny Jaya, Papua, pada akhir Juli 2022. Kondisi ini telah menyebabkan gagal panen secara meluas sehingga mengakibatkan kelaparan parah 500 lebih penduduk di wilayah yang terisolasi tersebut.

Peneliti Klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengatakan potensi fenomena embun beku ini akan berlanjut. Embun beku, kata dia, kerap terjadi pada dini hari hingga pagi hari di daerah pegunungan dan lembah selama musim kemarau di Indonesia.

“Tendensi terjadinya peningkatan pada suhu maksimum dan penurunan pada suhu minimum harian ini disertai kelembapan udara yang rendah yaitu sekitar kurang dari 77%, sebagai bukti udara cenderung kering di wilayah Papua. Kondisi ini diperparah dengan ketiadaan awan di atas wilayah Indonesia karena dampak dari pembentukan bibit siklon tropis di Belahan Bumi Utara beberapa waktu lalu dan akan berlanjut selama bulan Agustus 2022,” kata Erma kepada Media Indonesia, Sabtu (13/8).

Hal ini membuat potensi kering karena Indonesia minim awan selama bulan Agustus akan terus terjadi sehingga fenomena embun upas dapat terus berlanjut di berbagai kawasan pegunungan tinggi di Indonesia.

“Untuk wilayah di Lanny Jaya, Papua tengah, terdapat potensi mengalami musim basah pada bulan September 2022 sehingga kondisi kering ini kemungkinan bertahan selama Agustus 2022. Namun, kawasan Papua timur seperti Kuyawage, kondisi kering kemungkinan dapat berlanjut hingga September 2022,” tambahnya.

Baca juga: Anomali Cuaca Sebabkan Embun Beku di Lanny Jaya Papua

Perubahan suhu secara drastis antara suhu minimum yang begitu rendah di pagi hari dan suhu maksimum melonjak tinggi di siang hari pada udara yang kering ini menjadi pola harian yang persisten. Hal ini telah mematikan tanaman karena banyak jenis tanaman perkebunan yang tidak bisa bertahan atau beradaptasi dalam menghadapi fluktuasi cuaca harian ini.

Erma menyampaikan Tim Periset Agroklimat dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, mengatakan, di wilayah pegunungan memang biasanya ditanami pohon seperti teh, tembakau, ubi jalar, dan sayur-mayur. Namun, tanaman tersebut tidak resisten terhadap gejala embun upas. Sehingga perlu adanya mitigasi dari berbagai tanaman agar tetap bertahan hidup.

“Hal ini karena daunnya berpotensi mengalami kerusakan jaringan karena pengerutan dari dampak pembekuan dan tidak bisa kembali pulih. Upaya mitigasi selama musim kemarau bisa dicoba mengganti jenis tanaman tersebut dengan pohon pepaya seperti yang ditanam di pegunungan Dieng, Jawa Tengah. Selain itu, perlu juga untuk menanam komoditas tanaman lain yang lebih resisten misalnya dengan memilih tanaman berdaun tebal seperti kaktus, buah naga, nangka, durian, dan sejenisnya,” pungkas dia.(OL-5)

BERITA TERKAIT