13 August 2022, 11:05 WIB

Anomali Cuaca Sebabkan Embun Beku di Lanny Jaya Papua


Dinda Shabrina | Humaniora

AFP/FABRICE COFFRINI
 AFP/FABRICE COFFRINI
Ilustrasi embun beku.

PENELITI Ahli Utama pada Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widodo Setiyo Pranowo, menerangkan fenomena embun beku yang terjadi di Lanny Jaya, Papua disebabkan adanya anomali cuaca.

"Kalau normal saja, di Lanny Jaya itu sudah dingin, ini ada tambahan awan kiriman dari samudera pasifik yang menutup di atasnya, yang saya sebut sebagai anomali cuaca, jadi dia menghambat sinar matahari untuk turun. Makanya tambah dingin. Itulah kenapa terjadi embun itu," jelas Widodo kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.

Widodo juga menjelaskan posisi Lanny Jaya Papua secara koordinat geografis letaknya ada di bawah garis khatulistiwa, sekitar 3-4 lintang selatan.

Antara bulan Juni hingga sebelum September, lanjut Widodo, posisi matahari berada di belahan bumi utara. "Posisisnya itu di utaranya khatulistiwa. Jadi di sisi selatan khatulistiwa, efeknya adalah lebih dingin, karena matahati adanya di utara khatulistiwa. Jadi lebih dingin," ujar Widodo.

Baca juga: Sambut HUT RI ke-77 Lewat Seni Mural

Baca jugaKista Fisiologis yang Datang dan Pergi

"Sekitar Juni sampai September itu angin bergerak dari atasnya benua Australia, menuju ke arah barat laut. Jadi arahnya berarti kalau sisi indonesia, dari arah Tenggara datangnya. Angin yang melintas di atas Australia menuju arah barat laut itu pasti melewati sekitar puncak jaya. Biasanya anginnya itu karakternya dingin sama kering," tutur dia.

"Kalau melihat dari citra satelit, ternyata dari arah Samudera Pasifik, berarti itu dari arah timur, sama dari arah timur laut, itu kalau saya lihat banyak awan bergerak. Jadi bergeraknya ke arah barat dan barat daya, itu di atas Samudera Pasifik. Sehingga kalau dilihat awan-awan itu ngumpul di daerah atasnya daerah puncak Lanny Jaya," tambah Widodo.

Begitu adanyq ketambahan awan dari Samudera Pasifik tadi, kata Widodo pasti akan menghambat cahaya matahari yang membuat suhu sekitar Lanny Jaya itu semakin rendah

"Kalau misalnya sekitar dini hari aja, di Lanny Jaya suhunya sekitar 3 sampai 4 derajat celcius. Kalau sekitar jam 9 pagi cuma 7 sampai 9 derajat celcius. Kalaupun misalnya tengah hari jam 12 katakan lah cuma 11 sampai 12 derajat celcius. Kemungkinannya kalau pagi itu kemudian jadi ada embun, antara 4 sampai 7 derajat celcius itu memang wajar ya," terang Widodo.

Peneliti BRIN itu berharap kondisi anomali cuaca itu segera berakhir. Menurut dia, tidak akan lama secara perlahan matahari pada bulan September mulai mendekati khatulistiwa.

"Nanti mulai bergerak ke selatan. Semoga dengan adanya pergerakan matahari yang semakin menuju ke selatan ini semakin hangat. Dengan semakin hangat itu maka akan terjadi perbedaan tekanan udara. Sehingga nanti akan menghasilkan angin yang lebih sedikit kuat untuk menghalau, menyingkirkan si awan tadi. Matahari bisa nembus lagi ke bawah ke daratan. Jadi semakin hangat dan normal lagi. Moga-moga begitu. Kalau tidak ada anomali cuaca lagi yang datang dari samudera pasifik," ujar Widodo.

Kemungkinan, kata dia fenomena embun beku yang terjadi di Lanny Jaya bisa terjadi juga di daerah lain. "Saya nggak yakin sih karena belum pernah lihat datanya. Di Bromo itu misalnya ada penduduknya kan, mungkin kalau mau coba tanya bisa saja. Seperti itu juga atau tidak. Karena posisinya dia hampir di garis lintang yg sama. Pokoknya di selatannya khatulistiwa dan Bromo juga cukup tinggi. Di sana juga ada penduduk. Intinya yg bisa tahu ada kejadian itu ya karena penduduk di situ. Kalau nggak ada penduduknya kita nggak bisa terima laporan apa-apa," tandasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT