05 August 2022, 17:02 WIB

Hingga Saat Ini Belum Ada Kasus Monkeypox di Tanah Air


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

ANTARA FOTO/Umarul Faruq
 ANTARA FOTO/Umarul Faruq
Penumpang pesawat melintasi alat pendeteksi suhu tubuh (thermal scanner) saat tiba di terminal 2 Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo.

KETUA Satgas Monkeypox PB IDI dr Hanny Nilasari, SpKK menjelaskan hingga saat ini belum ada kasus cacar monyet atau monkeypox di Tanah Air.

"Sampai hari ini belum ada kasus yang terkonfirmasi kasus monkeypox di Indonesia. Meskipun ada informasi kasus yang terduga atau suspek yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit tetapi masih menunggu hasil laboratorium untuk pemeriksaan apakah terkonfirmasi atau tidak," kata Hanny dalam konferensi pers dari PB IDI secara daring, Jumat (5/8).

Selain itu terkait vaksinasi monkeyox hingga saat ini juga belum direkomendasikan. Karena ini tidak menjadi endemi di Indonesia sehingga sampai saat ini vaksinasi monkeypox untuk populasi yang sehat belum direkomendasikan. Namun ada 2 vaksin yang sudah dirilis oleh Food and Drug Administration atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) yakni Jynneos (Imvamune atau Imvanex) dan ACAM2000.

Namun untuk Badan POM RI belum ada rilis apakah digunakan di Indonesia. Namun, Hanny menekankan akan tetap dioptimalkan jika terdapat satu pasien yang terkonfirmasi tentunya PB IDI mendorong supaya adanya vaksinasi dan hal-hal terkait dengan pencegahan sekundernya.

Kalau pencegahan primer seperti perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menghindari kontak dengan binatang liar, dan orang-orang habis perjalanan luar negeri bisa diidentifikasi, bila ada gejala segera datang ke dokter dan sebagainya.

Baca juga: Puncak Kasus Covid-19 tak Bisa Diprediksi Jika Testing Masih Rendah

"Namun vaksinasi tetap direkomendasikan apabila dibutuhkan di suatu saat. Dan biasanya prinsip vaksinasi diberikan sebelum terpapar namun ada beberapa laporan juga bisa diberikan pada kasus-kasus yang sudah terkena," ujar dr Hanny.

Reinfeksi

Bagi pasien monkeypox yang sudah sembuh ternyata bisa terpapar lagi, terlebih pasien tersebut memiliki imunitas tubuh yang tidak baik.

Hanny menjelaskan hampir sama teorinya dengan virus-virus lainnya apabila seseorang terpapar inveksi virus pada saat itu tentunya ada gejalanya dan tubuh akan membentuk suatu antibodi. Namun bila terjadi reinfeksi tentu masih bisa namun tubuh memiliki antibodi untuk masa waktu tertentu dan terlindungi.

"Terkecuali apabila pasien tersebut memiliki kondisi yang disebut imunokompromais atau defisiensi imun tubuh jadi daya tahan tubuhnya sangat lemah sehingga terjadi reinfeksi berulang-ulang," ungkapnya.

Kemudian lesi pada kulit akibat cacar monyet dalam waktu 7 hari sudah dinyatakan sembuh maka akan membaik. Pada saat membaik tersebut busa terjadi suatu kondisi scar atau bekas. Bekasnya tersebut bisa dibilang seperti jerawat dan bisa juga terjadi hyperpigmentasi pasca inflmasi atau scar berwarna hitam.

Monkeypox pada umumnya 5 persen menyerang wajah dan kemudian diikuti di batang tubuh seperti lengan, perut, punggung, badan, dan lain sebagainya. Begitu juga kondisi di telapak tangan jadi mukosa sekitar mata, dalam mulut, sekitar mulut, dan sekitar genital lain.

"Jika pasien memiliki imunitas baik maka kondisinya pun baik artinya kelainan hanya lokal, jika daya tahan tubuhnya tidak baik kondisinya bisa berat," katanya.

Pada saat orang tersebut memiliki daya tahan tubuh yang berat bisa terjadi komplikasi infeksi kulit, infeksi saluran pernapasan, hingga infeksi otak dan kematian.

Oleh karena itu diharapkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan memperhatikan orang sekitar untuk mencegah terjadinya penularan.

"Dengan meningkatkan awarness masyarakat dan orang-orang sekitar rasanya temuan contact tracing, tata laksana yang cepat, dan pencegahan komperhensif bisa menolong agar angka kematian yang bisa diketahui 0-16 persen bisa ditangani," pungkasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT