21 July 2022, 13:14 WIB

BRIN Perkuat Kerja Sama Riset dan Ilmu Pengetahuan dengan Belanda


Faustinus Nua | Humaniora

MI/Faustinus Nua
 MI/Faustinus Nua
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, H.E. Robbert Dijkgraaf.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementrian Pendidikan, Kebudayaan dan Sains Belanda (Ministry of Education, Culture and Science of the Netherlands - MoECS) memulai babak baru kerja sama di bidang riset dan ilmu pengetahuan. Hal itu ditandai dengan adanya MoU yang ditandatangani Kepala BRIN Laksana Tri Handoko dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, H.E. Robbert Dijkgraaf hari ini, Kamis (21/7).

"Belanda kita tahu mereka juga yang bangun kebun raya dan sebagainya sejak 200 tahun lebih yang lalu. Khusus saat ini memang spesial karena BRIN sudah terbentuk, sebumnya mereka harus kerja sama dengan banyak institusi riset sekarang cukup dengan BRIN saja," ujar Handoko dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (21/7).

Handoko menjelaskan bahwa antara Indonesia dan Belanda memang sudah terjalin kerjasama sejak lama di sektor riset dan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, saat ini, dengan kunjungan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda manandakan babak baru dalam kolaborasi kedua negara.

BRIN dalam kapasitasnya bisa memfasilitasi lebih banyak lagi kerjasama. Sebab, lembaga riset plat merah itu merupakan gabungan dari berbagai lembaga riset yang ada sebelumnya. "Jadi bukan cuma minta mereka yang biayai, tapi kita juga bisa sharing, karena kita sudah mengkonsolidasi sumber-sumber riset yang ada dalam BRIN," imbuhnya.

Menurutnya, kerjasama kedua negara selama ini terkait biodiversitas dan meterial sains. Ke depan kedua pihak akan memperkuat khususnya di sektor biodiversitas, pemanfaatan biodiversitas untuk penguatan pengan, kesehatan dan energi.

"Belanda punya kelebihan dibandingkan negara yang lain dan itu yang kita harapkan untuk bisa lebih diperkuat lagi. Kalau PLTN (energi) tidak dengan Belanda. Belanda khususnya yang EBT, misalnya angin atau yang biomasa," kata Handoko.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, H.E. Robbert Dijkgraaf menyampaikan apresiasinya atas kerjasama yang akan diperkuat itu. Kehadiran BRIN dinilai mempermudah pihaknya untuk menjalin dan memperkuat kolaborasi.

"Sekarang sangat mudah bagi kita untuk memperkuat kolaborasi ini karena ada satu badan dimana semua itu disatukan. Jadi kami sangat bahagia untuk MoU ini," ucapnya.

Kita akan memperkuat kolaborasi pada topik yang spesifik. Prioritas BRIN biodiversitas, kesehatan, pertanian, energi. Ini topik yang Belanda bisa memanentu dan bisa juga belajar dari Indonesia. Saya kira ini adalah win win kolaborasi," sambungnya.

Selain kolaborasi riset, pertemuan keduanya juga membahas terkait ilmu pengetahuan. Indonesia dan Belanda menjajaki upaya peningkatan SDM riset. "BRIN sangat berambisi untuk melatih generasi muda itulah kita bisa berlatih bersama. Ini adalah misi baru terkati ilmu pengetahuan," terangnya.

Dari perusatemuan keduanya, dihasilkan letter of intent antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda dengan BRIN tentang kerjasama riset dan ilmu pengetahuan. Kemudian juga letter of intent terkait kolaborasi dalam program pembangunan kapasitas bidang riset, ilmu pengetahuan dan teknologi antara Deputi Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN dan Univeristas Twente di Belanda. (OL-12)

BERITA TERKAIT