12 July 2022, 17:04 WIB

BKKBN: Mengkhawatirkan, Angka Perceraian Tembus 580 Ribu


Faustinus Nua | Humaniora

ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
 ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Warga menunggu antrean pengurusan surat administrasi di Pengadilan Agama Indramayu, Jawa Barat.

KEPALA Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengungkapkan kekhawatirannya akan tingginya angka perceraian. Berdasarkan data Kemenag, angka perceraian naik cukup signifikan sejak tahun 2015 dan hal itu dinilai bisa berdampak pada kehidupan keluarga.

"Yang menggelisahkan perceraian yang sejak tahun 2015, satu tahun yang cerai 350 ribu. Kemudian 2018 naik, 2019 naik dan 2021 perceraian di Indonesia 580 ribu," ungkapnya dalam acara peluncuran Instruktur Presiden (Inpres) No. 3 Tahun 2022 tentang Optimalisasi Penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas, Selasa (12/7).

Menurut Hasto, pemerintah tengah mengupayakan untuk mewujudkan keluarga berkualitas lewat Kampung Keluarga Berkualitas. Ini merupakan kelanjutan dari program sebelumnya yakni keluarga berencana.

Baca juga: Puan : RUU KIA, Negara Wajib Beri Bantuan Gizi Bagi Ibu dan Anak Tak Mampu

Dengan angka perceraian yang tinggi, tentu menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan keluarga berkualitas.

"Ini mudah-mudahan memantik kita dalam membangun keluarga berkualitas, sehingga bentuk keluarga yang sakinah mawadah warohmah, keluarga yang maslahah tentram, mandiri dan bahagia," tuturnya.

Lewat program tersebut, pemerintah memastikan tidak ada satupun keluarga tidak terlayani bila mengalami suatu permasalahan, baik sosial, kemiskinan, kesehatan dan pendidikan. Disamping itu juga menekan angka kematian ibu, kematian bayi dan stunting. Kemudian juga angka partisipasi sekolah dan juga angka-angka kekerasan dalam keluarga terhadap perempuan dan anak diharapkan bisa menurun drastis di Kampung Keluarga Berkualitas.(OL-4)

BERITA TERKAIT