08 July 2022, 09:00 WIB

BRIN Dorong Pemanfaatan Teknologi Pengolahan Air Bersih


Faustinus Nua | Humaniora

ANTARA/MUHAMMAD IQBAL
 ANTARA/MUHAMMAD IQBAL
Pekerja memeriksa air baku Sungai Cisadane untuk air minum di PDAM Tirta Benteng Tangerang, Neglasari, Tangerang,  Jumat (24/6/2022).

BERTAMBAHNYA penduduk yang semakin pesat, dan berkembangnya jumlah permukiman baru di berbagai tempat dapat menimbulkan menurunnya kualitas air bersih. Hal ini karena proses penyaringan air secara alami ikut terhambat, semakin menurun dan tercemar.

Peneliti Ahli Utama dari Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nusa Idaman Said mengatakan salah satu permasalahan air yang masih dihadapi, yaitu dalam penyediaan air bersih di Indonesia. Bahan baku air yang dikelola oleh PDAM, belum memenuhi syarat air baku minum kelas satu. Air banyak tercemar oleh polutan air limbah domestik, maupun industri.

“Semakin buruknya kualitas air baku air minum, mengakibatkan biaya produksi air minum menjadi bertambah besar. Harga jual air pun, menjadi lebih mahal,” ujar Nusa dalam keterangannya, Jumat (8/7).

Baca juga: Komisi IV DPR Minta Pemerintah Tindak Pelanggar Perizinan Kawasan Hutan

Baca jugaEdukasi Pertahanan Diri Bisa Cegah Pelecehan Seksual

Dijelaskannya, ada beberapa metode pengolahan air yang bisa digunakan PDAM. Pertama, yaitu sistem khlorinisasi, cara ini dilakukan dengan membubuhkan khlor sebagai disinfektan. Sistem saringan pasir lambat, dapat terbentuknya lapisan film di atas saringan pasir, dan menjernihkan air secara biokimia.

“Ada pula sistem saringan pasir cepat, yaitu pengendapan dengan menggunakan senyawa kimia, dan saringan cepat. Kemudian, terakhir dengan sistem pengolahan air bersih yang dilengkapi dengan pengolahan khusus,” tuturnya.

Menurutnya, karena adanya unsur-unsur khusus pada air baku, misalnya pada kasus air dengan kandungan besi tinggi. Diperlukan pengolahan preklorinasi, pengaturan pH, dan metode pengolahan dengan bakteri besi.

Nusa menyampaikan penggunaan teknologi pengolahan air di atas, sudah memenuhi persyaratan sebagai air minum. “Menurut saya teknologi itu dapat dipertanggungjawabkan, apalagi kalau air bakunya sudah bagus. Apapun air bakunya, sebetulnya bisa diproses untuk menjadi air minum,” katanya.

“Pengolahan air secara menyeluruh, sangat penting untuk menghindari biaya tinggi. Baik biaya industri, maupun biaya sosial. Strateginya, kita harus memilih sumber air, teknologi pengolahan yang tepat, ekonomis, dan memenuhi baku mutu,” kata Nusa.

Plt. Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Wihatmoko Waskito Aji mengatakan masyarakat sangat membutuhkan tersedianya air bersih dan sehat sesuai standar. Jika melihat fenomena yang ada, masyarakat sangat membutuhkan proses pengolahan air bersih untuk rumah tangga dan dunia industri. Dengan demikian membuat kualitas air akan menjadi lebih baik, sehingga masyarakat dapat menikmati air jernih dan sehat.

“Kami berharap ini bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat. Termasuk juga kepada pemerintah daerah, mengenai teknologi apa yang bisa diolah, terkait penyediaan air bersih bagi masyarakat,” ucapnya.

Wihatmoko berharap akan ada kerja sama antara BRIN dan pemerintah daerah yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat, supaya memperoleh air baku yang baik, sehat dan bebas dari kontaminasi. Sehingga air yang dikonsumsi masyarakat memenuhi baku mutu sesuai standar kesehatan. (H-3)

BERITA TERKAIT