07 July 2022, 19:32 WIB

Menkes Targetkan Pemenuhan Alat Kateterisasi Jantung di 34 Provinsi


Dinda Shabrina | Humaniora

freepik.com
 freepik.com
ilustrasi penyakit jantung

MENTERI Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menargetkan layanan kateterisasi atau cath lab dapat terpenuhi di 207 kabupaten/kota di 34 provinsi.

Ia mengungkapkan salah satu penyakit yang paling banyak di Indonesia adalah jantung. Karenanya, alat medis yang dibutuhkan untuk pengobatan jantung adalah layanan kateterisasi jantung (cath lab).

“Yang bisa melakukan layanan cath lab hanya di 28 provinsi dari 34 provinsi. Provinsi yang belum bisa melakukan layanan cath lab kateterisasi antara lain Bangka Belitung, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat,” kata Budi dalam keterangan tertulis, Kamis (7/7).

“Jadi di 34 provinsi dan 207 kabupaten/kota harus mampu melakukan layanan cath lab dan bedah jantung terbuka,” imbuh Budi.

Selain pemenuhan alat medis seperti cath lab, Menkes Budi menekankan harus diiringi dengan pemenuhan dokter spesialis.

“Namun yang kurang adalah dokter spesialisnya. Teman-teman AIPKI bisa bantu memenuhi SDM nya,” tuturnya.

Baca juga: Jus Bit Tekan Risiko Penyakit Jantung Akibat Inflmasi

Posisi dokter spesialis berada di pelayanan sekunder yang menerima rujukan dari pelayanan primer.

“Layanan rujukan yang penting buat saya adalah masyarakat bisa terlayani. Penyakit yang paling banyak di kita adalah di antaranya jantung, stroke, kanker, dan ginjal,” tukasnya.

Pemenuhan dokter spesialis, imbuh Menkes Budi, dapat dilakukan melalui desain program academic health system (AHC). Dalam AHC ada 4 level strategi yakni mahasiswa, dosen, wahana yaitu RS pendidikan, dan pengampuan prodi atau fakultas kedokteran.

Menkes Budi menjelaskan peningkatan kuota mahasiswa kedokteran dan dokter spesialis harus dilakukan. Setelah itu dari sisi dosen, harus dilakukan peningkatan jumlah dosen.

Level selanjutnya dari sisi RS pendidikan, yaitu peningkatan jumlah RS pendidikan, dan yang terakhir adalah level fakultas kedokteran, yakni dilakukan dengan peningkatan jumlah prodi atau fakultas kedokteran baru.(OL-5)

BERITA TERKAIT