26 June 2022, 19:30 WIB

Diabetes Masih Jadi Momok di Indonesia 


Gana Buana | Humaniora

DOK IST
 DOK IST
Peluncuran Kurikulum Pelatihan Terakreditasi tentang Manajemen Diabetes untuk HCP.

NOVO Nordisk Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia, dan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) meluncurkan kurikulum pelatihan penanganan diabetes terakreditasi untuk tenaga kesehatan di seluruh Indonesia. Sebab, Diabetes merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia karena menyebabkan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. 

Prevalensi diabetes terus meningkat karena banyaknya kasus yang tidak terdiagnosis. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)1, prevalensi diabetes telah meningkat sebanyak 10,9 persen pada 2018. International Diabetes Federation (IDF) juga menyebutkan bahwa jumlah penderita diabetes di Indonesia terus meningkat, dari 10,7 juta pada 2019 menjadi 19,5 juta pada 2021.

Jumlah ini membawa Indonesia naik ke peringkat kelima, dari peringkat ketujuh pada 2019, dalam daftar negara dengan jumlah pengidap diabetes terbanyak di dunia.2 Jika tidak ada intervensi, angka ini diperkirakan akan terus meningkat dan dapat mencapai 643 juta pada 2030 dan 784 juta pada 2045.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, peningkatan jumlah penderita diabetes dapat dicegah jika dilakukan upaya promotif dan preventif yang baik di tingkat pelayanan kesehatan primer. Saat ini Kementerian Kesehatan sedang melakukan berbagai upaya transformatif dan memperluas deteksi dini di lokasi pelayanan kesehatan primer. 

“Kami akan melakukan screening gula darah dan HbA1c di fasilitas kesehatan primer, target kami 100% sasaran tercapai pada 2024,” ungkap Dante di Jakarta belum lama ini.

Menurut dia, peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan juga merupakan bagian dari rencana Kemenkes untuk mencegah diabetes.

“Saya sangat mengapresiasi kerja sama bilateral dengan pemerintah Denmark dan juga Novo Nordisk Indonesia yang telah berkolaborasi dengan Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer (PKP), Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), dan Direktorat Peningkatan Mutu Tenaga Kesehatan dalam penyusunan modul pelatihan komprehensif untuk dokter umum di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP),” imbuh Dante.

Duta Besar Denmark untuk Indonesia H.E. Lars Bo Larsen menyatakan, seperti yang tertulis dalam government-to-government memorandum of understanding (G2G MoU) mengenai kerja sama antara Indonesia dan Denmark dalam bidang kesehatan, Denmark sangat mendukung pemerintah Indonesia. Melalui kesepakatan yang telah ditandatangani tahun lalu, pihaknya akan mendukung segala upaya tata kelola kesehatan masyarakat Indonesia dalam perawatan diabetes.

“Harapannya  akan menurunkan angka komplikasi yang disebabkan oleh diabetes,”kata dia.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI Elvieda Sariwati menyampaikan, komplikasi diabetes, terutama pada pembuluh darah dan sistem saraf dapat menyebabkan peningkatan angka kesakitan dan kematian. Hal ini dapat menurunkan produktivitas pasien, juga secara tidak langsung, memengaruhi kondisi finansial mereka.

“Sekitar 74% pengeluaran pasien diabetes adalah untuk menangani komplikasi, bukan untuk obat-obatan. Untuk memastikan pengidap diabetes dapat mencapai target glikemik dan menghindari komplikasi, kami memerlukan kontribusi dari semua tingkatan layanan kesehatan,“ jelas dia.

Menyadari hal tersebut, penting untuk menyediakan program pelatihan manajemen diabetes yang terakreditasi dengan kurikulum yang terstandarisasi. Pelatihan yang akan dilakukan oleh lembaga terakreditasi, akan menghasilkan lebih banyak tenaga kesehatan profesional yang mempunyai kemampuan untuk melakukan diagnosa dan mengontrol diabetes.

“Saya mencanangkan kurikulum pengelolaan diabetes melitus tipe-2 sebagai kurikulum berstandar nasional. Kurikulum ini akan dapat dimanfaatkan oleh seluruh lembaga pelatihan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, khususnya bagi dokter umum yang mengelola diabetes mellitus di Puskesmas,” tambah dia.

Pada 2021, IDF telah membagikan rekomendasi untuk melakukan capacity building bagi dokter umum di Puskemas dan memperluas kewenangan mereka untuk melakukan terapi insulin dan melakukan perawatan diabetes secara komprehensif untuk mendukung pasien dalam mengontrol gula darah dan mencegah komplikasi. Pelatihan yang dilaksanakan akan diintegrasikan ke seluruh tingkatan layanan kesehatan. 

Dokter spesialis endokrin di fasilitas perawatan tersier akan berpartisipasi dalam training-of-trainers (ToT) program untuk melatih internis. Sementara itu, internis di tingkat sekunder, juga akan berpartisipasi dalam program ToT untuk melatih dokter umum di tingkat dasar. Modul dan pelatihan yang dilaksanakan merupakan bagian dari implementasi G2G MoU dalam bidang kesehatan antara pemerintah Indonesia dan Denmark yang telah disebutkan sebelumnya. (R-3)

BERITA TERKAIT