26 June 2022, 22:10 WIB

Peringatan HANI 2022, Kualitas SDM untuk Bangun Karakter Remaja Jadi Tantangan


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

ANTARA/Ampelsa
 ANTARA/Ampelsa
 Finalis Putri Indonesia 2015 asal Papua Olvah Alhamid berfoto bersama relawan sambil membawa poster peringatan HANI 2022 di Aceh.

PERINGATAN dan penetapan 26 Juni sebagai Hari Anti-Narkoba Internasional disepakati oleh United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC) pada tanggal 26 Juni 1988. Perayaan hari HANI dilaksankan setiap tahun guna memperkuat aksi secara universal dan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.

Dalam refleksinya, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Hasto Wardoyo menyebut bahwa sekarang ini mental emotional disorder atau gangguan mental emosional pada anak remaja dalam keluarga meningkat pesat pada 2018 jika dibandingkan dengan 2013 lalu.

"Hasil 2018 dari 2013 (data Riskesdas), tingkat mental emosional disorder meningkat, orang-orang yang mengalami gangguan mental disorder ini relate dengan orang-orang kecanduan adiksi," kata Hasto kepada Media Indonesia Minggu (26/6).

Dia menambahkan, populasi remaja yang mengalami mental disorder meningkat pesat sehingga remaja yang risiko tinggi menggunakan zat-zat adiktif akan meningkat juga. Apalagi toxic people, toxic relationship, toxic friendship yang akhirnya juga mempengaruhi keluarga.

"BKKBN itu berperan bagaimana menjaga kualitas keluarga, sehingga hari ini perceraian juga tinggi sekali, ini juga satu rentetan ketika orang banyak mental disorder, banyak mengunakan narkotika, banyak disharmoni kemudian keluarga juga sangat terpengaruh," tuturnya.

Jika dilihat pergerakan 2021 mencapai 581 ribu kasus perceraian, lanjut Hasto pada 2015 hingga sekarang terjadi peningkatan disharmoni keluarga. Begitu juga keterisian rumah tahanan yang besar bahkan hampir 60% ke atas ditempati pelanggaran narkotika.

"Ini bagian refleksi keluarga, sehingga menjadi sumber dari pembangunan kualitas SDM, khususnya remaja untuk membangun karakter yang baik. Ini betul betul menjadi tantangan bagi BKKBN," tegasnya.


Baca juga: Pemerintah Ajak Masyarakat Cegah Ekstremisme di Media Sosial


Di kesempatan lain, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengajak seluruh pemuda di Tanah Air untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba. Hal itu dapat mewujudkan generasi unggul dan berkualitas.

"Agar lebih produktif dan berdaya saing, mari bersama mencegah penyalahgunaan narkoba," ujar Budi dalam seminar virtual, Sabtu (25/6).

Menurut dia, pemuda merupakan generasi penerus harapan bangsa, yang berperan penting dalam program pembangunan negara. "Pada 2030, Indonesia akan mencapai bonus demografi," katanya.

"Dengan adanya dominasi usia produktif, khususnya di dalamnya termasuk pemuda, akan memegang peranan penting dalam mendukung program pembangunan nasional," lanjut Budi.

Pemerintah dikatakannya terus melakukan sejumlah upaya guna meningkatkan kesadaran dan pemahaman pemuda. Dalam hal ini, agar berperan aktif mewujudkan terciptanya generasi unggul dan berkualitas.

"Saat ini, terdapat beberapa masalah terkait perilaku berisiko di tengah para pemuda. Misalkan, masalah kekerasan, perundungan, penyalahgunaan narkoba, hingga penyebaran penyakit menular seksual," pungkasnya.

Berdasarkan data BNN, BRIN dan BPS, angka prevalensi gangguan penyalahgunaan narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya meningkat dari 1,8% pada 2019, kemudian menjadi 1,95% pada 2021.

Sementara itu, prevalensi terbanyak ada dalam kelompok usia 15-24 tahun. Budi pun mengajak semua pihak untuk membangun generasi muda yang sadar kesehatan melalui gerakan masyarakat hidup sehat. (S-2)

BERITA TERKAIT