22 June 2022, 12:18 WIB

Proyek NBS Dua BUMN Hasilkan Kredit Karbon 11,6 Juta Ton CO2 Per Tahun


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist
 Ist
Acara penandatanganan Kerja sama Pengembangan Proyek NBS antara Perhutani dan Pertamina Power Indonesia.

PERUM Perhutani mengembangkan proyek Natured Based Solution (NBS) di sembilan lokasi hutan, bermitra dengan Pertamina Power Indonesia sebagai Subholding Power & New Renewable Energy (Pertamina NRE).

Proyek NBS berpotensi menghasilkan kredit karbon 11,6 juta CO2 per tahun untuk mengintensifkan pelestarian hutan guna mengurangi emisi gas rumah kaca di sektor kehutanan

Upaya tersebut juga bertujuan mempercepatan pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia tahun 2030 dan visi Net Zero Emission 2060 di lingkup Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 

Seperti diketahui. melalui dokumen  long term strategy – low carbon and climate resilience (LTS – LTCCR), Indonesia telah menargetkan untuk mencapai net zero emission (NZE)  pada 2060 atau lebih awal.

Indonesia didorong untuk menurunkan emisi, dengan target sampai dengan 29% dalam waktu 10 tahun di 2030 nantinya.

Untuk itu,  Pertamina NRE bersinergi mendorong percepatan pencapaian Nationally Determined Contribution Indonesia tahun 2030 serta visi NZE di lingkup Kementerian BUMN dengan mengembangkan proyek Nature Based Solution (NBS) salah satunya melalui skema reduced emission from deforestation and forest degradation (REDD).

Baca juga: KLHK Gelar Sosialisasi Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 Tingkat Regional

“Proyek ini bertujuan untuk mengintensifkan kegiatan pelestarian hutan guna mengurangi pelepasan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan serta memberikan dampak positif bagi penyerapan emisi karbon dan keanekaragaman lingkungan.” jelas Wakil Menteri I BUMN Pahala Nugraha Mansury dalam keterangan pers, Rabu (22/6)

Wakil Menteri I BUMN Pahala juga menghadiri penandatanganan Head of Agreement (HoA) Kerja sama Pengembangan Proyek NBS oleh Direktur Utama Perum Perhutani diwakili Direktur Operasi Natalas Anis Harjanto dan CEO  Pertamina NRE Dannif Danusaputro di Sentul Eco Edu Tourism Forest, Kabupaten Bogor pada Senin (20/06).

Penandatanganan  HoA disaksikan oleh Wamen I BUMN Pahala Nugraha Mansury, dan Direktur Logistik dan Infrastruktur PT Pertamina (Persero) Mulyono.

Kerja sama ini diawali dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada Desember 2021 lalu, kemudian ditindaklanjuti dengan serangkaian pengerjaan Pra-Feasibility Study (FS) pada Februari-Mei 2022, dan dilanjutkan audiensi dengan KLHK pada 7 Juni 2022 serta konsultasi regulasi melalui Focus Group Discussion dengan KLHK pada 15 Juni 2022 lalu.

Karbon Kredit 11,6 juta ton CO2/tahun

Direktur Operasi Perhutani Natalas Ari Haryanto menyampaikan selain menekan laju deforestasi, tujuan kerjasama tersebut adalah memperluas tutupan lahan yang akan meningkatkan kemampuan kawasan hutan untuk menyerap emisi gas rumah kaca. 

“Kami sudah mengidentifikasi 9 calon lokasi di wilayah kawasan hutan milik Perhutani Group yang akan menjadi objek dan lokasi dari proyek  ini," jelasnya.

"Sembilan calon lokasi ini lebih lanjut akan dilakukan studi kelayakan  untk mengetahui kelayakan proyek dari khususnya terkait dampak terhadap lingkungan serta sisi finansial maupun operasional,” ujar Natalas.

Dia menambahkan bahwa berdasarkan hasil Pra Studi Kelayakan, NBS Project pada ke-9 lokasi ini akan mampu menghasilkan kredit kabon (carbon credit) lebih dari 11,6 juta ton CO2 per tahun.

Dengan skema bisnis yang tepat, maka proyek  ini akan mampu menjadi bisnis baru yang memberikan nilai tambah pada kedua belah pihak.

Sementara itu,  sejumlah  upaya dekarbonisasi yang akan dilaksanakan oleh Perum Perhutani, lanjut Natalas, di antaranya menekan atau mengurangi kerusakan hutan dan meningkatkan rehabilitasi lahan, menekan kebakaran hutan, mengganti penggunaan Marine Fuel Oil (MFO) menjadi Compressed Nature Gas (CNG) pada industri hasil hutan.

Selain itu, di bidang tanaman Perhutani juga mengurangi penggunaan pupuk anorganik.

Untuk Nature Based Solutions (NBS) merupakan salah satu solusi yang mengacu pada pengelolaan dan optimasi sumberdaya alam yang berkelanjutan melalui rekonfigurasi pengelolaan.

Pahala juga menyampaikan bahwa Pembentukan perusahaan NBS dan kerjasama antara Perhutani dan Pertamina NRE ini merupakan satu dari inisiatif strategis Kementerian BUMN untuk mendukung dekarbonisasi.

 “Dengan adanya NBS,  kita berharap bisa menjaga lingkungan di sekitar BUMN mendorong adanya energi baru terbarukan, yang berkaitan dengan sektror energi mengingat sebagai salah satu penghasil emisi terbesar.”

Dia berharap proyek NBS dapat memanfaatkan, mengelola, serta melestarikan wilayah hutan dengan potensi pengembangannya.

Perhutani beserta anak perusahaannya berperan sebagai penyedia lahan (land co) sementara Pertamina NRE sebagai pengelola bisnis NBS melalui NBS co. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT