19 June 2022, 19:11 WIB

Pijat Bayi Bisa Tingkatkan Nafsu Makan dan Berat Badan


mediaindonesia.com | Humaniora

Ist
 Ist
Ketua Perkumpulan Pelatih Pijat Bayi Indonesia (Perpibi) Tiur Hutagalung diwawancarai wartawan.

KEGIATAN memijat bayi adalah salah satu cara yang bisa dilakukan agar berat badan dan nfpsu makan si kecil dapat meningkat. Pijatan pada buah hati secara rutin juga memiliki manfaat yang baik terhadap tumbuh kembang sang anak. 

Ketua Perkumpulan Pelatih Pijat Bayi Indonesia (Perpibi) yang juga instruktur pijat bersertifikasi International Association of Infant Massage (IAIM), Tiur Hutagalung, menjelaskan pemijatan bayi sebaiknya dilakukan oleh orangtua sendiri dan bukan orang lain.

"Penting banget karena manfaatnya salah satunya menambah atau meningkatkan nafsu makan,  mengurangi tangisan pada bayi dan banyak hal lain yang bisa didapat," kata Tiur dalam seminar pijat bayi dan relaunching Perpibi di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (19/6).

"Jadi yang seharusnya melakukan pemijatan bayi itu adalah orang tuanya, bukan orang lain. Jadi harus yang kenal dengan si bayi karena bayi sebaiknya dipijat pada saat bayi terbangun dan siap atau happy," jelasnya.

Tiur Hutagalung menegaskan, memijat merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi ibu dan ayah serta si kecil, sehingga bisa menciptakan ikatan emosional yang akan dirasakan langsung oleh anak hingga ia tumbuh dewasa. Lalu kapankah waktu terbaik untuk melakukan pijat pada bayi?

Baca juga: Turunkan Stunting, Kemendikbudristek Edukasi Program Pendidikan Kesehatan Anak

Menurut Tiur Hutagalung, hal tersebut tergantung pada keinginan sang anak. Tiur menyarankan agar orangtua untuk melakukan pijatan rutin secara terus menerus.

Untuk melakukan pijatan terhadap buah hati, bisa dilakukan di mana saja, selama pijatan yang diberikan oleh ibu dan ayah dapat membuat bayi merasa nyaman.

"Waktu yang tepat semua bayi pasti berbeda, karena waktu yang tepat pijat bayi adalah saat quite alert atau bayi terbangun dalam keadaan tersadar penuh," kata Tiur.

"Ada enam tingkah laku aktivitas pada bayi, yaitu,tertidur dalam, tertidur dangkal, mengantuk, menangis, bayi aktif dan bayi terbangun dalam keadaan tersadar penuh," katanya.

"Nah, waktu yang tepat untuk dipijat oleh orangtua yaitu saat bayi bangun tersadar penuh (Quite Alert) Jadi jam berapa quite alert pastinya setiap bayi berbeda-beda," sambungnya.

Tiur Hutagalung menegaskan, Perpibi adalah perkumpulan untuk para CIMI (Certified Infant Massage Instructor) yang berada di wilayah  Indonesia, dan semua CIMI melatih para orangtua agar mampu belajar memahami sinyal ketika bayi akan dipijat dan juga mereka bisa memijatnya setiap waktu di rumah.

Jadi, kata dia, bukan seminggu sekali atau sebulan sekali.

"Kalau seminggu sekali atau sebulan sekali itu tidak mendapatkan apa yang manfaat pijat seperti yang diinginkan orang tuanya," katanya.

"Jadi orang tua bisa belajar ke kita jadi dari mulai nol bulan sampe satu tahun. Tapi Gerakan pijatnya dapat mereka aplikasikan sampai anaknya besar, selama anaknya masih menginginkan," ujar Tiur.

"Contoh saya punya bayi usia satu minggu saya pijatin sampe sekarang usia 21 tahun, udah gede, jadi karena ia sudah terbiasa diberikan stimulasi oleh ibu, jadi dia selalu mengingat sentuhan ibu. Jadi, kata pijat di sini jangan disamakan dengan pijat orang dewasa yang dengan tekanan," katanya lagi.

Seperti diketahui, saat ini mulai dirasakan oleh masyarakat betapa pentingnya bayi mendapatkan ASI dari ibunya dan akhir-akhir ini pemerintah sedang menggalakkan pemberian ASI ekslusif untuk bayi 0-6 bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun. 

Hormon prolaktin dan oksitosin merupakan hormon yang sangat penting dalam memperlancar produksi ASI dan melalui pijat bayi yang dilakukan langsung oleh ibunya adalah salah satu penunjang lancarnya proses pemberian ASI. 

Di samping itu kebutuhan akan pijat bayi untuk tumbuh dan kembang anak sangat diperlukan.

Pijat bayi memberikan efek yang positif baik secara jasmani bayi maupun secara rohani yaitu dengan meningkatnya hubungan emosional (bonding) antara ibu dan bayi baik secara kualitas maupun kuantitas.

"Perpibi adalah perkumpulan yang mandiri tanpa terikat pada suatu lembaga agama atau kegiatan politik tertentu. Perpibi merupakan Organisasi Nirlaba," kata Tiur.

Ditegaskan Tiur, anggota Perpibi terdiri dari CIMI dan calon CIMI atau siswa Instruktur pijat bayi.

Semua anggotanya adalah warganegara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA) yang berdomisili di wilayah Indonesia yang afiliasi anggotanya bekerja sesuai dengan pernyataan misi dan tujuan dari IAIM dan Perpibi. 

Dalam kegiatan seminar tatap muka sekaligus daring turut menghadirkan dua narasumber penting yakni Dr. dr. Bob Wahyudin, SpA (K)., CIMI dan dr. Ameetha Drupadi, CIMI.

Kegiatan Seminar Pijat Bayi dan Relaunching Perbibi diikuti semua anggota Perpibi baik yang sudah menjadi CIMI, siswa yang sedang menyelesaikan sertifikasi CIMI serta seluruh masyarakat yang berminat untuk mengetahui tentang pijat bayi dan manfaatnya terutama para orangtua yang masih memiliki bayi.

Selain itu, Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo dan Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Kesehatan dan Pendidikan Kementierian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dr. Endah Sri Rejeki, juga turut memberikan sambutan seminar dan relaunching Perpibi.

Kedua lembaga tersebut menegaskan bahwa pijat bayi dapat membantu mengatasi masalah gizi serta menjadi salah satu solusi pencegahan stunting atau tumbuh pendek.

"Dengan pijat bayi, dapat menjadi bentuk stimulasi terhadap bayi untuk mendukung tumbuh kembang bayi yang optimal." tutur Tiur. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT