14 June 2022, 21:49 WIB

Rest Area Cibubur Square Akan Memiliki Fasilitas Bio-Conversion Organic


Widhoroso | Humaniora

Ist
 Ist
Korindo Group memberikan bantuan hibah dana kepada FFLI untuk proyek pengolahan Sampah Organik Bio-Conversion. 

BERDASARKAN laporan Barilla Center Food And Nutritions, Indonesia menduduki urutan kedelapan di antara negara-negara G20 yang menghasilkan sampah terbanyak. Sampah makanan dari Indonesia didominasi oleh sampah rumah tangga sebesar 77 kg per orang dalam setahun.

Persoalan tentang sampah semakin kompleks seiring dengan pertambahan penduduk. Hal tersebut tentu membutuhkan inovasi baru serta cara yang kreatif guna mengatasi permasalahan yang tergolong serius ini. Korindo Group bekerja sama dengan Forest For Life Indonesia (FFLI) dalam membangun tempat pengolahan sampah organik dengan menggunakan teknik Bio-Conversion BSF (Black Soldier Fly/ Lalat Tentara Hitam) yang berlokasi di Rest Area Cibubur Square, Jakarta.

Untuk mendukung penuh inkubasi proyek Pengolahan Sampah Organik Bio Conversion, Korindo memberikan bantuan hibah dana kepada FFLI untuk melaksanakan proyek pengolahan sampah ini. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua belah pihak dilakukan, Senin (13/6).

"Semua keperluan program sudah disiapkan, baik dari segi lokasi hingga ketersediaan limbah organik yang akan diolah dan diurai. Nantinya lokasi tersebut akan menjadi Rest Area pertama di dunia yang memiliki Bio-Conversion Organic," ucap Sekjen Yayasan Korindo Seo Jeongsik.

Melalui konsep circular-economy atau berpedoman pada prinsip mengurangi sampah dan memaksimalkan sumber daya yang ada, Bio-Conversion Organic menggunakan Lalat Tentara Hitam yang berpotensi membuat prospek ekonomi baru, dengan mengubah sampah organik menjadi pupuk dan protein.

"Kami berkomitmen dengan hibah yang diperoleh dari Korindo ini dapat lebih membantu kita dalam memajukan masyarakat. Selain itu, hal ini juga akan meyakinkan mereka bahwa Bio-Conversion Organic merupakan cara paling murah yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah sampah,” tandas Ketua FFLI Hadi Pasaribu.

Proyek Bio-Conversion Organic dengan menggunakan Lalat Tentara Hitam di Rest Area Cibubur Square merupakan proyek kedua yang dijalankan Korindo bersama dengan FFLI. Pada 2018 silam, Korindo Group dan FFLI juga telah membangun pengelolaan sampah organik serupa di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

"Apa yang kita kembangkan saat ini telah menjadi prototipe untuk pengembangan penanganan sampah di Lombok. Bahkan, pemerintah NTB telah secara khusus membentuk struktur organisasi berupa Unit Pelaksana Teknis Dinas untuk pengolahan sampah,” sebut Hadi.

Bio-Conversion Organic dengan menggunakan Lalat Tentara Hitam relatif aman bagi lingkungan. Dari sekitar 800 jenis lalat yang ada, Lalat Tentara Hitam merupakan jenis yang paling berbeda, karena tidak bersifat patogen atau membawa agen penyakit. Selain, setyelah maksimal mengurai sampah-sampah organik, larva Lalat Tentara Hitam bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, seperti ikan atau ayam. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT