13 June 2022, 15:40 WIB

Purnama Puisi di Atas Awan Bentuk Kecintaan pada Budaya dan Kearifan Lokal


Haryanto | Humaniora

MI/HARYANTO
 MI/HARYANTO
Suasana parade puisi Purnama Puisi di Atas Awan

 

PEMENTASAN  malam kebudayaan bertajuk "Purnama Puisi di Atas Awan" yang
digelar oleh Universitas Semarang (USM) bekerja sama dengan Persatuan
Wartawan Indonesia Provinsi Jawa Tengah berlangsung sukses. Acara berlangsung di Lantai 10 Menara USM, Minggu (12/6) malam .

Parade puisi yang dibawakan tokoh, pejabat negara dan penyair yang digelar secara hybrid (offline dan virtual) ini bukan saja syahdu menguarkan pesona dan spiritualisme tentang candi-candi, tetapi juga mampu mengajak audiens berselanjar di lorong sejarah.

Dengan interpretasi masing-masing, mereka membacakan puisi yang diambilkan dari buku antologi puisi "Percakapan dengan Candi: (2020) dan "Dari Peradaban Gunadarma" (2021) karya Amir Machmud NS.

Dalam keseharian, Amir adalah wartawan, penulis sastra, kolumnis, dosen, dan Ketua PWI Jateng.

Sedianya pentas parade puisi tersebut dihelat di panggung pertunjukan
terbuka yang didesain ala amfiteater Romawi Kuno dengan lanskap miniatur candi.

Namun, karena hujan deras yang mengguyur Kota Semarang sejak sore,
panitia memindahkannya ke ruang indoor, tetap dengan latar potret kemegahan dan keindahan Candi Borobudur. Sekitar 100 orang hadir di acara, sedangkan 255 orang menyaksikanya melalui live on zoom meeting.

Di deretan tamu undangan, terlihat Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Jateng yang juga Pj Wali Kota Salatiga Sinoeng N Rachmadi bersama jajaran, Ketua Umum KONI Jateng Bona Ventura Sulistiana, Dandim 0733 Kota Semarang Letkol Inf Honi Havana, dan Ketua KIP Jateng Sosiawan.

Hadir juga Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip Prof Sudharto
P Hadi MES PhD, anggota pembina yayasan Ir Soeharsojo IPU, Ketua YAU Prof Dr Ir Kesi Widjajanti SE MM, Rektor USM Dr Supari Priambodo ST MT, direktur pascasarjana, dekan, kaprodi USM serta pengurus harian dan DKP PWI Jateng.

Acara parade puisi yang digelar dalam rangka memperingati HUT Ke-35 atau Lustrum Ke-7 USM dibuka dengan sambutan dan pembacaan puisi oleh
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo secara virtual.

Bamsoet, sapaan akrabnya, mengatakan, era disrupsi dan globalisasi
membuat sekat teritorial antarnegara menjadi tak berarti. Dari sini muncul tantangan mempertahankan eksistensi nilai-nilai dan budaya.

Maka, pada perayaan HUT Ke-35, dia mengapresiasi langkah USM dan PWI Jateng menggagas acara parade puisi tentang candi sebagai bagian komitmen akademik turut mengajak masyarakat dan pemangku kepentingan untuk lebih mencintai warisan budaya.

Candi-candi seperti Borobudur, Prambanan, Dieng, Plaosan adalah khazanah budaya bangsa. Jateng punya 53 situs candi yang tersebar di 11 kabupaten.

''Candi adalah aset wisata dan kebanggaan, dan mari memaknai candi sebagai akar budaya, bukan sebagai objek eksploitasi. Sekali lagi, dirgahayu untuk USM, semoga maju dan berkembang,'' ajaknya.

Dalam kesempatan itu, Bamsoet membacakan puisi bertajuk "Sebutlah Ini
Negara Candi".

Turut memberikan sambutan, dalam acara yang dipandu oleh Myra Azzahra itu, Kepala Pusat Pengembangan SDM Kemenparekraf, Faisal.

Acara ini makin istimewa dengan keterlibatan Gubernur Jateng Ganjar
Pranowo. Secara virtual, Gubernur juga menyampaikan apresiasi terhadap
acara ini. Dia mengucapkan selamat kepada USM dan berharap pada ulang
tahunnya ke-35 makin jaya.

Penuh penghayatan dan menggetarkan hati, Ganjar membacakan puisi Guruku, karya KH A Mustofa Bisri (Gus Mus).

Tak ketinggalan, mantan Menteri Transmigrasi dan Tenaga Kerja Erman
Soeparno tampil ekspresif dengan beskap dan blangkon. Dia membawakan puisi "Cinta pun Menepikan Sekat".

Rektor Undip Prof Dr Yos Johan Utama SH MHum tampak gagah dengan puisi "Bulan di Atas Candi Sewu". Dari Kabupaten Magelang, Bupati Zaenal Arifin pun tampak menjiwai saat melisankan "Di Mungkid, di Kota Candi".


Gayeng

Suasana makin riuh dan gayeng saat Kadispopar Jateng Sinoeng Rachnadi live on stage. Maklum, pejabat ini dikenal piawai dalam menulis kata-kata indah nan syahdu di medsos.

Sinoeng begitu prima saat melafalkan "Kenduri Simfoni Hati" karya Amir
Machmud, seakan mengajak audiens melakukan perjalanan spiritual atas
rakitan-rakitan batu bersejarah.

Bait puisi ini begitu dalam: //...inikah kenduri simfoni hati?/menziarahi candi-candi/menyusuri ilham agung/dalam sunyi...//

Honi Havana juga terlihat tegas ketika membacakan "Di Keteduhan Mendut".

Perwira TNI lulusan Akmil 2000 itu mengaku suka puisi dan tak pernah bosan berwisata ke Borobudur.

Rektor USM Dr Supari terlihat menghayati ketika menyuarakan "Menjauhkan
Warisan Peradaban", //...kelak, pada suatu masa/kau hanya bisa bercerita kepada anak cucumu/: tentang candi perkasa/tentang mahakarya luar biasa/tentang warisan peradaban tiada tara/cukuplah melihat
foto-fotonya/menjejaki cahaya kegemilangannya/wangsa Syailendra pun pasti tak mengira/pada suatu masa/Sambarabudhara tak terjangkau/ kehendak meraih karib semesta.

Penonton pun sempat merenung, ketika Prof Sudharto menyajikan karyanya
sendiri,  "Borobudur, antara Konservasi dan Ekonomi", dan Prof Kesi
membawakan "Mengantar Matahari di Gedong Sanga".

Akademisi yang tampil lain adalah Plh Kaprodi S1 Pariwisata USM Fajriannoor Fanani Sos MIkom ("Di Gerbang Cinta Samarabudara"), penyair Budi Maryono ("Sunyi Kabut Pagi"), Widiyartono R ("Suara-suara dari Bukit Baka"), Ch Kurniawati ("Luap Kata Rakai Pikatan, Luap Kata Pramodyawardhani"), Made Dwi Adnjani dengan penuh penghayatan melantunkan "Percakapan Hati Rakai Pikatan" dan "Percakapan Hati Pramodyawardhani", Dini Inayati ("Lewat Kearifan yang Terbaca"), serta Amir Machmud membacakam puisi terbarunya, "Cahaya Gunadharma".

Pembina Yayasan Alumni Undip Prof Sudharto mengatakan malam kebudayaan ini sangat bagus sebagai penanda Dies Natalis Ke-35 USM. Dia menilai, candi adalah bagian dari karya budaya bangsa. Candi bukan hanya kobjek wisata yang mendatangkan keuntungan, tapi kita bisa belajar kearifan untuk dikembangkan untuk hari esok.

''Usia 35 tahun, saya kira momentum mewujudkan kan cita-cita USM menjadi universitas unggul,'' tandasnya.

Rektor USM Supari menegaskan, pergelaran ini sebagai komitmen betapa sebuah perguruan tinggi menjadi unsur terdepan mengajak masyarakat untuk menghargai, merawat budaya.

Selain itu memperingati Lustrum Ke-7  USM dan mempromosikan Program Studi Pariwisata Fakultas Teknologi Informatika dan Komunikasi USM.

''Kemegahan candi untuk mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah bangsa
yang besar,bangsa berbudaya. Sejak dulu kita bangsa yang punya SDM luar
biasa, bonus demografi luar biasa. Jangan sampai menjadi bangsa
tersekat-sekat oleh ego sektoral partisan,'' kata Supari sambil menyebut kegiatan ini akan berlanjut.

Sementara Ketua PWI Jateng Amir Machmud NS mengatakan, parade puisi tokoh dan penyair adalah bagian bentuk penyegaran untuk mempromosikan kembali pariwisata Jateng di tengah pulihnya pandemi. (N-2)

BERITA TERKAIT