08 June 2022, 08:45 WIB

IDI dan Asosiasi Medis Dunia Susun Kode Etik Kedokteran Internasional


Atalya Puspa | Humaniora

MI/HO
 MI/HO
Perwakilan MPPK IDI Pukovisa Prawiroharjo saat berbicara dalam ICoME di Bangkok Thailand.

AWAL pekan ini, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mewakili Indonesia menghadiri World Medical Association (WMA) Regional Meeting for Asia On the International Code of Medical Ethics (ICoME) di Bangkok Thailand. Pertemuan itu adalah rangkaian dari pembuatan Kode Etik Kedokteran Internasional. 

PB IDI diwakili oleh Prof Sukman Tulus Putra dari Dewan Pertimbangan IDI dan Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK) IDI, Eka Ginanjar dari Bidang Hubungan Internasional, serta Pukovisa Prawiroharjo dari Majelis Pengembangan Pelayanan Kedokteran (MPPK) IDI.

Dikatakan oleh Prof Sukman dalam pertemuan tersebut, “Kode Etik Kedokteran adalah dimensi utama nilai profesi dokter dalam pengabdian profesi yang berbasiskan kepada etik kesejawatan dan moral tanggung jawab pada masyarakat. Kedua kaidah moral ini merupakan wujud IDI mengawal sinergitas pembangunan kesehatan dengan Kementerian Kesehatan untuk mendukung enam pilar transformasi kesehatan yang melingkupi pelayanan kesehatan, pendidikan dan penelitian.”

Baca juga: IDI Komitmen Perkuat Layanan Kesehatan Indonesia

Pukovisa mengatakan, dalam presentasinya di acara tersebut, bahwa enam pilar transformasi kesehatan merupakan kebijakan strategis masa depan kesehatan bangsa untuk terkait dengan pencanangan peran IDI sebagai agent of change, agent of development, agent of treatment dan agent of health defense. 

Sikap Proaktif IDI adalah suatu upaya untuk membuka suatu transparansi peran Dokter untuk menjejak pengabdian di masyarakat lebih luas dengan tidak melupakan nilai-nilai etik kesejawatan dan perubahan sosial di masyarakat. 

Beberapa topik yang menjadi pembahasan utama dalam pertemuan ini antara lain; telemedicine,pPeran dokter pada posisi emergensi, informed consent (semua tindakan medis pada pasien), dan prinsip otonomi pasien.

Sementara itu, Eka Ginanjar mengatakan pertemuan itu merupakan salah satu tindak lanjut dari Deklarasi Bersama WHO di Jenewa Swiss, Mei lalu. 

Selain menyusun Bersama Kode Etik Kedokteran Internasional ini sebagai bagian dari pelrindungan dan keselamatan pasien dan masyarakat, acara ini juga bertujuan untuk mempererat hubungan IDI di dunia Internasional. 

Selain IDI, yang menjadi asosisasi dokter resmi dari Indonesia yang diakui dunia, World Medical Association juga mengundang 15 asosiasi dokter resmi dari 15 negara lainnya. 

Selain aktif terlibat dalam penyusunan Kode Etik Kedokteran Internasional ini, PB IDI juga akan menjadi tuan rumah konferensi Asosiasi Dokter Sedunia (World Medical Association) di Jakarta, Juli mendatang. (RO/OL-1)

BERITA TERKAIT