07 June 2022, 07:15 WIB

Ahli Ungkap Penyebab Remaja Mulai Merokok


Basuki Eka Purnama | Humaniora

ANTARA/Didik Suhartono
 ANTARA/Didik Suhartono
Sejumlah remaja melakukan aksi kampanye bahaya merokok di Surabaya, Jawa Timur.

MEROKOK merupakan kebiasaan dan termasuk candu yang tidak sehat bagi diri seseorang, terlebih lagi untuk anak maupun para remaja.

Sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang mulai mencoba merokok hingga akhirnya menjadi seorang pecandu rokok. 

Baca juga: Kebiasaan Merokok di Usia Muda Picu Penyakit Nonmenular

Menurut beberapa ahli, banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan seorang anak atau remaja mulai mencoba untuk merokok. Berikut adalah beberapa alasan remaja mulai merokok

Mengalami cognitive dissonance

Bukan hanya faktor lingkungan pertemanan saja yang umumnya memang dapat membuat anak atau remaja untuk merokok. 

Psikolog Klinis Liza Marielly Djapriemenjelaskan bahwa terdapat beberapa alasan lainnya yang menyebabkan seorang anak merokok, mulai dari Cognitive Dissonance hingga rasa stres.

Dia mengatakan bahwa ketika seorang anak atau remaja sering melihat lingkungannya baik teman atau keluarga merokok, hal tersebut bisa membuat seseorang menjadi memiliki proses berpikir yang kurang tepat atau disebut Cognitive Disorder.

"Kalau kita berbicara hubungan antara anak remaja dengan perilaku merokok, itu sebenarnya banyak faktor yang terlibat. Bisa karena mereka terekspos sejak dini akan perilaku merokok orang-orang sekitarnya. Sehingga mengalami, apa yang kalau di psikologi itu namanya Cognitive Dissonance," jelas Liza.

Lebih lanjut, Liza menjelaskan bahwa Cognitive Disonance adalah proses berfikir yang kurang tepat. Seseorang yang mengalami hal ini biasanya memiliki proses berpikir yang salah menjadi benar dan sebaliknya.

Menurut Liza, hal tersebut dikarenakan sang anak maupun remaja sering melihat orang-orang yang dituakan dalam keluarga, seperti orangtua, kakak, dan lain sebagainya memiliki kebiasaan merokok. 

Hal inilah yang mengakibatkan sang anak berpikir bahwa kebiasaan merokok tidak apa-apa untuk dilakukan.

"Jadi, proses berfikir yang kurang tepat. Yang salah jadi benar, yang benar jadi salah. Jadi bayangkan kalau anak kecil sangat terbiasa melihat orang-orang terdekatnya, apalagi figur yang dituakan merokok kan asumsinya karena ini adalah figur orang yang dituakan, biasanya anak atau remaja cenderung melihat mereka sebagai orang yang sudah pasti benar," kata Liza.

Faktor genetik

Selain faktor proses berpikir yang kurang tepat, Psikiater I Gusti Ngurah Agastya, dari klinik Angsamerah dan Pusat Rehabilitasi Ketergantungan Zat dan Obat-Obatan Ashefa Griya Pusaka, juga mengatakan faktor genetik pun juga dapat menjadi alasan seorang remaja untuk mulai merokok.

"Bisa juga dari secara biologis memang ada juga nih yang dialami sama remaja tersebut. Jadi secara genetiknya memungkinkan seseorang lebih berisiko untuk memulai merokok," tuturnya.

Lingkungan pertemanan

Faktor yang satu ini memang umum terjadi pada anak mau pun remaja. Para ahli pun juga membenarkan bahwa faktor lingkungan pertemanan juga sangat memungkinkan sang anak atau remaja mulai menjadi seorang perokok aktif.

"Lingkungan juga berpengaruh. Biasanya pada remaja ini, biasanya lingkungan nih yang paling berperan," ungkap Agastya.

Hal serupa pun juga disampaikan Liza bahwa faktor pertemanan juga dapat menjadi pendorong seorang anak atau remaja untuk mulai merokok. Sebab, seorang anak terutama remaja sangat membutuhkan penerimaan atau pengakuan dari lingkungannya.

Sehingga pada saat ikut merokok dengan teman-teman, dia pun merasa diakui dan diterima oleh lingkungannya.

"Kedua bisa juga karena pengaruh lingkungan di lingkungan remaja atau anak-anak. Karena kalau berbicara anak dan remaja, khususnya remaja, mereka itu kan punya kebutuhan yang sangat besar untuk bisa diterima lingkungan," ujar Liza.

"Sehingga, ketika lingkungannya, khususnya teman-teman mereka yang terdekat merokok, mereka jadi berpikir, 'Kayaknya gue mesti ikutan'. Apalagi kalau teman-temannya juga ngejek-ngejek. Jadi bisa karena pengaruh itu juga," sambungnya.

Terpapar konten

Di sisi lain, Psikolog dari Universitas Indonesia A Kasandra Putranto mengatakan faktor genetik dan lingkungan sangat berperan untuk menimbulkan kebiasaan merokok. Akan tetapi, kebiasaan untuk merokok juga dapat timbul dari konten-konten yang dilihat oleh sang anak baik dari media sosial atau media formal.

"Banyak kemungkinan terkait alasan anak atau remaja merokok. Mulai dari aspek genetik, pola asuh, hasil belajar, sampai peran lingkungan termasuk konten media baik media formal mau pun media sosial," kata Kasandra.

Pernyataan itu juga dijelaskan oleh Liza. Menurutnya, saat seorang anak atau remaja sudah terpapar oleh konten-konten merokok, hal tersebut pun sudah terprogram secara tidak langsung di otak mereka.

Sehingga, hal ini juga berkenaan dengan tingkat stres mereka. Saat sang anak atau remaja merasa stres, mereka akan langsung mengaktivasi program merokok yang telah mereka miliki di dalam otaknya. Oleh sebab itu, hal inilah yang menyebabkan mereka mencoba untuk mulai merokok.

"Bisa juga karena stres. Karena tidak ada exposure dari lingkungan, dari kecil tidak ada ejek-ejekan dari teman, tapi kan dia sering melihat orang merokok. Jadi program merokok itu sudah ada di kepala. Sudah ada di otak. Tinggal tunggu aktivasinya nih," papar Liza.

"Nah ketika dia merasa stres, bisa teraktivasi, 'Merokok saja kali ya, Enak'. Itu karena dia sudah sering melihat mungkin di film atau apa pun itu yang berkaitan dengan orang merokok," tutupnya. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT