04 June 2022, 15:46 WIB

Imunisasi Anak, Tanda Sayang Orang Tua yang Peduli


Eni Kartinah | Humaniora

ANTARA/Katriana
 ANTARA/Katriana
Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K)., MSi., Anggota ITAGI sekaligus Satgas Imunisasi IDAI ((Ikatan Dokter Anak Indonesia).

TIDAK hanya covid-19, penyakit menular berbahaya lainnya terus mengancam anak-anak Indonesia.

Penyakit menular seperti campak, rubela, difteri, polio (Lumpuh layuh), pneumonia (radang paru), diare, tetanus bayi, dan lain-lain bisa menimbulkan risiko kecacatan hingga kematian apabila tidak tertangani.

Setiap tahun di Indonesia selalu terjadi kejadian luar biasa (KLB) campak, rubella, dan difteri dengan catatan korban kematian dan kecacatan pada bayi dan balita yang tinggi.

Cakupan imunisasi bagi anak-anak, terutama di masa pandemi covid-19 sejak 2020 hingga saat ini juga terhitung menurun sehingga perlindungan yang tercipta juga turun di kelompok umur anak-anak.

Padahal, pencegahan terbaik dari tertular dan risiko penyakit menular tersebut adalah melalui cakupan imunisasi yang tinggi.

Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K)., MSi., Anggota ITAGI sekaligus Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengutip data dari Kemenkes terkait peningkatan kasus penyakit menular di 2021 lalu antara lain, kasus campak meningkat di 71 Kab/Kota di 25 provinsi. Kasus rubela di tahun yang sama meningkat 84 kabupaten dan kota di 25 provinsi.

Baca juga: 1,7 Juta Bayi Belum Dapat Imunisasi Dasar Selama Pandemi Covid-19

Kasus difteri meningkat di 96 Kab/Kota di 23 provinsi, Ini karena cakupan imunisasi campak rubella di 2020-2021 menurun sekitar 81-86% pada bayi, lalu anak usia kurang dari 2 tahun cakupan imunisasinya turun sekitar 65-67%, dan murid SD kelas 1 di hampir semua provinsi berada di bawah target perlindungan cakupan imunisasi.

“Kasus positif campak anak umur 0 – 15 tahun di Indonesia pada 2020 sebanyak 80%, dan 2021 sebanyak 74%. Sementara itu kasus positif rubela di Indonesia untuk anak usia 0-15 tahun di 2020 sebanyak 80%, sedangkan di 2021 sebanyak 84%,” ujar Prof. Soedjatmiko dalam keterangan pers, Sabtu (4/6).

Hal tersebut menjadi dasar pertimbangan Kemenkes memberikan tambahan imunisasi campak rubela mulai umur 9 bulan sampai 15 tahun, tergantung cakupan imunisasi campak rubella di setiap provinsi.

Lebih lanjut lagi, data yang disampaikan Prof. Miko untuk cakupan imunisasi difteri di 2020-2021 juga turut menurun.

Imunisasi DPT4 pada bayi hanya memiliki cakupan sekitar 68-51%, imunisasi difteri tetanus (DT) untuk kelas 1 SD, tetanus diphteria (Td) untuk kelas 2 SD dan kelas 5 SD di hampir semua provinsi di Indonesia dibawah target cakupan perlindungan yang ditetapkan WHO.

Cakupan vaksinasi polio oral untuk mencegah polio serotipe 1 dan 3 menurun pada periode 2020- 2021 dengan cakupan sekitar 86-70%.

Begitu juga dengan vaksin polio suntik untuk mencegah polio serotipe 1, 2, 3 menurun drastis 37-58%, sehingga perlindungan terhadap polio serotipe 2 sangat rendah di Indonesia.

Untuk mencegah bahaya campak, rubella, difteri, dan polio inilah pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan menggelar Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN).

Tujuannya memberikan imunisasi tambahan campak rubela sebanyak satu dosis tanpa memandang status imunisasi campak rubela sebelumnya.

“Vaksin yang digunakan dalam program BIAN adalah vaksin yang sudah lama digunakan dalam program imunisasi di Indonesia dan beberapa negara lain sejak lama, dan terbukti aman serta bermanfaat mencegah sakit berat, cacat dan kematian akibat penyakit menular," jelasnya.

"Maka supaya kadar antibodi tetap tinggi, bertahan lama, dan tidak cepat habis, beberapa imunisasi harus diualang beberapa kali,” ujar Prof. Soedjatmiko.

Prof. Soedjatmiko menyarankan bahwa orang tua sebaiknya mengingat dan menyimpan kartu catatan imunisasi rutin anak-anak mereka agar perlindungan yang diberikan melalui imunisasi lengkap.

Namun apabila keluarga ragu, dianggap imunisasi belum lengkap, dan bisa segera melengkapi imunisasi anak-anak mereka.

Pengulangan maupun penambahan dosis imunisasi anak-anak tidak berbahaya, justru antibodi yang dihasilkan akan menjadi lebih tinggi dan lebih lama

Lalu pada program BIAN juga digelar imunisasi kejar untuk melengkapi status imunisasi polio tetes, polio suntik, dan difteri balita selain campak rubela di seluruh provinsi.

“Apabila kita menyebarkan informasi yang benar terkait besarnya risiko akibat penyakit-penyakit tersebut, dan manfaat imunisasi untuk mencegahnya, maka kita berharap semua orangtua melengkapi imunisasi balitanya," ucapnya.

"Apabila imuniasi kurang lengkap, maka KLB penyakit menular akan terus terjadi di Indonesia. Hal yang perlu dilakukan saat ini adalah dengan menyentuh hati nurani orangtua. Orangtua yang benar-benar sayang anak, tentu akan berusaha melindungi anaknya dari penyakit menular dengan melengkapi imunisasinya,” tutup Prof. Soedjatmiko. (RO/OL-09)

 

BERITA TERKAIT