03 June 2022, 11:06 WIB

Rekosistem Bantu Korporasi dan Rumah Tangga Kelola Sampah Daur Ulang


Faustinus Nua | Humaniora

ANTARA/IRWANSYAH PUTRA
 ANTARA/IRWANSYAH PUTRA
Ilustrasi. Tim Ekspedisi Sungai Nusantara memperlihatkan sampah medis yang dibuang sembarangan di Ujung Pancu, Aceh Besar, Kamis (2/6/2022)

MASALAH sampah menjadi salah satu isu penting dan perlu penanganan serius. Sebagai negara dengan populasi terbanyak keempat di dunia, Indonesia membutuhkan berbagai dukungan dalam sistem pengelolaan sampah.

Perusahaan startup cleantech Rekosistem membantu korporasi dan rumah tangga mengelola sampah yang bisa didaur ulang. Sejak diluncurkan pada 2021 lalu, total sampah yang didaur ulang Rekosistem sudah lebih dari 1.000 ton.

"Kita adalah perusahaan startup cleantech yang menawarkan jasa pengelolaan sampah baik itu dari pengumpulan, pemilahan atau pun pengolahan sampah tersebut untuk bisa didaur ulang," kata CEO sekaligus Co-Founder Rekosistem Ernest Layman, Jumat (3/6).

Baca juga: Tantangan Haji 2022 Covid-19 dan Puncak Suhu Panas, Ini Solusinya

Kehadiran startup pengolahan sampah yang berbasis aplikasi itu lantaran adanya kekhawatiran masalah sampah di Indonesia. Lewat aplikasinya, Rekosistem mendorong peningkatan pengolahan sampah daur ulang untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir pada TPA.

"Targetnya kita adalah lingkungan kita saat ini, masyarakat kita. Saat ini yang ingin kita dorong untuk memulai pola hidup ramah lingkungan atau yang bertanggung jawab, dimulai dari mengelola sampahnya," jelas Ernest.

Beroperasi untuk layanan B2B sekaligus B2C, Rekosistem menawarkan jasa jemput dan setor sampah sesuai kebutuhan. Cara kerja Rekosistem berpusat pada aplikasinya, baik dalam aplikasi web (web app) untuk pengambilan sampah secara berkala dari area pemukiman dan tempat komersial, maupun aplikasi seluler (mobile app) untuk pengguna individu yang menyetorkan sampah secara mandiri ke station Rekosistem yang tersedia.

Menurutnya, upaya pengelolaan sampah daur ulang sudah banyak dilakukan. Akan tetapi, kendala yang terjadi di masyarakat adalah kurangnya kesadaran serta sikap skeptis.

Rekosistem pun bekerja sama dengan perusahaan pengolahan sampah daur ulang hingga individu yang mengangkut atau memilah sampah. Saat ini terdapat lebih dari 25 waste station di dua kota yakni Jakarta dan Surabaya.

Rekosistem memperkenalkan sistem reward point yang diberlakukan untuk per kilogram sampah yang disetorkan. Sampah-sampah dari berbagai titik pengangkutan dan pengumpulan Rekosistem akan dikirim ke Rekosistem Waste Hub (Material Recovery Facility) untuk dipilah menjadi lebih dari 50 kategori. Setiap pilahan sampah akan didistribusikan ke mitra daur ulang Rekosistem untuk diolah lebih lanjut sesuai dengan jenis masing-masing.

"Kita bisa meningkatkan produktivitas sampah untuk didaur ulang setidaknya 3 kali lipat dari proses konservatif. Selain itu juga membantu pendapatan waste worker yang biasanya minimal bisa naik dua kali dari sebelum mereka bekerja sama," kata dia.

Tidak sebatas mengelola sampah, aplikasi cleantech tersebut juga memberi edukasi kepada masyarakat. Berbagai jenis sampah bisa dipilah untuk didaur ulang dan masyarakat perlu mengetahuinya, memulai mengelola sampah secara bertanggung jawab.

"Proses pengolahan sampah yang bertanggung jawab itu prosesnya panjang, itu marathon tidak bisa dicapai secara instan. Yang mau Rekosistem lakukan adalah mendorong dan memberi solusi sederhana kepada setiap elemen bisa untuk memulai perjalanan pengelolaan sampah bertanggung jawab," kata Ernest.

Ke depan, Rekosistem menargetkan peningkatan jumlah sampah daur ulang yang dikelola hingga 10 kali lipat. Setidaknya 5 kota besar di Indonesia menjadi target utama untuk memulai pengelolaan sampah bertanggung jawab. (H-3)

BERITA TERKAIT