03 June 2022, 07:15 WIB

Memurnikan Mallika dengan DNA


Ardi Teristi Hadi | Humaniora

Dok. UGM
 Dok. UGM
Ditargetkan dalam dua tahun ke depan turunan Mallika ini bisa menjadi varietas baru.

SWASEMBADA kedelai di Indonesia masih belum terwujud sementara kebutuhannya untuk bahan pangan dan lainnya terus meningkat. Untuk itu, tim dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada tengah melakukan riset pemurnian kedelai hitam jenis Mallika yang dinilai potensial bisa tumbuh ideal di Indonesia.

Riset yang sudah berjalan sekitar dua tahun ini diharapkan bisa menghasilkan variasi turunan unggul sehingga bisa menjadi varietas baru turunan dari kedelai Mallika.

"Di alam kedelai mengalami perkawinan, ada kemungkinan penyimpangan yang kita anggap unggul. Kita memurnikan Mallika pakai DNA, sudah dua kali dilakukan dan dapat varian baru dengan potensi yang lebih baik," kata Tri Harjoko, Ketua Tim Kedelai FT UGM.

Baca jugaKetahui Sejarah OPEC Hingga Daftar Anggotanya

Riset pemurnian dilakukan dengan mengambil satu biji dari setiap tanaman kedelai Mallika pada saat dipanen yang kemudian ditanam kembali. Setelah tiga kali panen dan tiga kali tanam mendapatkan potensi produksi lebih uanggul dibandingkan dengan Mallika awal.

Umumnya Mallika dapat 200-300 polong per tanaman. Namun dari riset didapat 600 hingga 1.200 polong untuk satu tanaman. Artinya satu
biji bisa menghasilkan 1.200 polong atau 2.000 biji saat panen. Untuk saat ini, riset pemurnian Mallika baru pada tahap uji
adaptasi, serta ujian potensi pada musim penghujan dan kemarau. Pada tahap ini Mallika menghasilkan rata-rata 5- 6 ton per Ha.

Menurut Tri, potensi produksi ini melampaui kemampuan kedelai hitam sebelumnya yang menghasilkan 2,7 ton per Ha dan rata-rata produksi kedelai nasional yang mencapai 1,3 hingga 1,7 ton per Ha.

"Yang jelas kita punya produk dan potensi produksi polong yang unggul. Ditanam pada musim penghujan dan kemarau relatif tidak ada perbedaan dan ini menjadi bagian dari keunggulan. Potensinya bisa tiga kali lipat dari nasional. Kita hanya butuh konsistensi dengan varietas unggul dari sisi produksi," ujar Tri.

Ditargetkan dalam dua tahun ke depan turunan Mallika ini bisa menjadi varietas baru setelah Mallika diluncurkan pada 2007 sebagai varietas baru dari kedelai hitam yang dihasilkan oleh tim UGM.

"Untuk menjadi varietas baru, selain ada uji produksi polong dan uji adaptasi di beberapa lokasi, perlu uji fisiologi untuk mengetahui kadar
protein dan kadar lemak yang setara dengan Mallika," terang Tri.

Petani kedelai hitam sekaligus Kepala Pedukuhan Gulon, Tugiyo menceritakan, dia mulai menanam kedelai hitam sejak 2006 ketika diajak oleh UGM dan PT Unilever. Lelaki berusia 62 tahun ini berhasil mengajak ratusan petani di menanam Mallika yang ditanam pada saat musim kemarau di area persawahan mereka.

Dekan Pertanian UGM Jaka Widada berharap riset ini bisa mendekatkan Indonesia ke swasembada kedelai yang saat ini kebutuhan nasional sekitar 90 persen dipenuhi dari impor. (H-3)

BERITA TERKAIT