01 June 2022, 12:15 WIB

Setelah Pandemi, Banyak Negara Harus Fokus pada Kesehatan Lansia


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

ANTARA/ YUSUF NUGROHO
 ANTARA/ YUSUF NUGROHO
VAKSINASI COVID-19: Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin covid-19 kepada lansia di Balai Desa Bulungcangkring, Kudus, Kamis (24/3).

EPIDEMIOLOG Penyakit Menular World Health Organization (WHO) Maria Van Kerkhove mengatakan saat ini negara-negara harus fokus pada vaksinasi covid-19 terutama pada kelompok risiko rentan yang berusia di atas 60 tahun khususnya yang memiliki penyakit komorbid.

"Negara berfokus terutama pada vaksinasi dan fokus pada vaksinasi populasi 60 tahun ke atas, 70 tahun, hingga 80 tahun ke atas. Mereka dengan kondisi yang mendasarinya berapa banyak yang telah mereka capai," kata Maria dalam dialog daring WHO, Rabu (1/6).

Meski banyak negara yang telah mencapai ketahanan populasi namun secara profesional medis kelompok lansia tetap harus dipantau kesehatannya terutama yang memiliki penyakit komorbid.

Ketika pandemi, penyakit komorbid lansia jarang terobati karena keterbatasan akses ke rumah sakit, sekarang waktunya untuk kembali memulihkan dan memperhatikan komorbid yang dimiliki.

Selain itu, meski tingkat kepaparan covid-19 berangsur menurun di banyak negara, namun ketentuan pengunaan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tetap dilakukan agar benar-benar mencapai endemi.

"Contohnya tetap menggunakan masker dalam ruangan. Di tingkat global kita dapat menguraikan bagaimana negara dapat keluar dari keadaan darurat, tetapi kami sadar setiap negara memiliki regulasi dan penyesuaiannya masing-masing," ujarnya.

Sebelumnya, Plt. Direktur Pengelolaan Imunisasi pada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Prima Yosephine mengatakan status vaksinasi covid-19 saat masuk dalam fase endemi masih didiskusikan dengan WHO yang belum mengeluarkan rekomendasi terkait hal itu.

"Terkait bagaimana status vaksinasi pada saat sudah masuk kita ke dalam fase endemi, apakah masuk menjadi vaksin rutin atau seperti apa, memang sampai saat ini kita masih berdiskusi tentang hal ini," kata Prima dalam rapat dengar pendapat dengan Panja Komisi IX DPR RI, Jakarta.

Dia mengatakan bahwa hal itu perlu disampaikan kepada Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) sebagai komite penasihat ahli tentang imunisasi. Selain itu dia menyebut juga bahwa WHO sampai saat ini belum mengeluarkan pernyataan atau rekomendasi terkait vaksinasi covid-19, ketika sudah keluar dari status pandemi. "Jadi masih belum bisa kami pastikan apakah ini akan menjadi vaksinasi rutin atau menjadi vaksinasi pilihan," tuturnya.

Prima memberi contoh vaksinasi pilihan, seperti vaksinasi influeza yang diberikan setiap tahun, tapi tidak masuk menjadi program vaksin yang wajib diberikan kepada masyarakat. Terkait penetapan vaksinasi tersebut memerlukan studi atau kajian yang menilai kadar imunitas setelah diberikan vaksinasi primer lengkap disertai penguat satu dosis.

Dalam kesempatan itu dia mengatakan bahwa laju vaksinasi covid-19 memperlihatkan tren penurunan, dengan laju suntikan rata-rata selama tujuh hari terakhir berkisar sekitar 217.000 suntikan per hari. Turunnya laju vaksinasi itu berimplikasi dengan masa edar atau shelf life dari vaksin covid-19.

"Sudah tentu jika hal ini tidak bisa kita tingkatkan tentu akan berimplikasi beberapa vaksin kita, yang memang kita tahu vaksin covid-19 ini masa shelf life-nya tidak panjang, sehingga memang pasti akan ada vaksin-vaksin yang menyentuh sampai ke masa akhir shelf life sehingga tidak bisa dipakai," pungkasnya.(H-1)

BERITA TERKAIT