31 May 2022, 10:50 WIB

Perokok Turunkan Kualitas SDM Indonesia dan Bonus Demografi


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

MI/Bary F
 MI/Bary F
Pengendara bermotor tengah melintasi gambar mural peringatan bahaya merokok di terowongan Jalan Raya Margonda, Depok, Jawa Barat

TOBACCO Control Support Center (TCSC) dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menilai bahwa perilaku merokok terutama anak muda dan remaja dapat mengancam kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia.

"Jangan sampai akibat dari rokok ini mengakibatkan sumber daya manusia Indonesia berkurang sehingga bonus demografi yang diimpikan tidak akan tercapai, bahkan kualitas pembangunan kesehatannya tidak tercapai," kata Ketua Umum TCSC IAKMI Dr Ede Surya Darmawan dalam Simposium Rokok: Ancaman Kesehatan dan Lingkungan secara daring, Senin (30/5).

Perokok di usia remaja akan mengancam kualitas anak di masa depan karena di usia dewasa akan mudah terkena penyakit, kebiasaan yang buruk, serta dapat menyebarkan penyakit kepada orang-orang sekitar.

Bahkan kebiasaan buruk merokok bisa berasal dari orang tua yang dampaknya terjadi pada anak. Ada masalah kesehatan masyarakat yang erat hubungannya dengan kasus tembakau seperti stunting karena uangnya digunakan oleh ayahnya untuk dibelikan rokok sehingga anak tidak bisa mendapatkan konsumsi makan dengan baik begitu juga ibunya.

"Kemudian Indonesia juga masih dihadapkan dengan kasus Tuberkulosis (TB) yang meningkat, serta penyakit tidak menular yang erat hubungannya dengan tembakau," ujarnya.

"Karena itu lah tembakau merupakan ancaman lingkungan bukan hanya karena sampahnya, bahkan kesuburan tanah akibat penanaman tembakau juga berkurang," tambahnya.

Sehingga pengendalian tembakau merupakan hal yang penting untuk mewujudkan sumber daya manusia yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing sebagai penopang pembangunan dan juga kedaulatan Indonesia.

"Pengendalian konsumsi tembakau merupakan hal yang penting untuk mewujudkan sumber daya manusia yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing. Sebaliknya, jangan sampai sumber daya manusia di Indonesia menjadi lemah karena penyakit akibat rokok apalagi yang masih muda sudah mulai merokok. Sehingga peluang pada bonus demografi justru menjadi bencana demografi," ungkap Ketua TCSC IAKMI dr Sumarjati Arjoso.

"Di sisi lain, rokok juga mengancam lingkungan seperti sampah putung rokok sulit untuk diurai yang mencemari tanah dan air laut sehingga mengganggu biota laut. Asap rokok juga menjadi penyumbang polutan dalam pencemaran udara yang berdampak pada kualitas udara yang memburuk," tambahnya. (OL-13)

Baca Juga: Indonesia Diminta Lebih Banyak Lakukan Riset Pengembangan Obat Herbal

BERITA TERKAIT