30 May 2022, 11:45 WIB

Polemik Banjir Rob Pantura, Ini Penjelasan Ahli ITB


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

ANTARA/Harviyan Perdana Putra
 ANTARA/Harviyan Perdana Putra
Foto udara banjir rob di Tirto Gang 12, Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (25/5/2022).

HAMPIR seluruh wilayah kabupaten dan kota di sepanjang pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah dilanda banjir rob dan gelombang pasang sejak Senin (23/5).

Kepala Laboratorium Geodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Heri Andreas mengatakan ternyata banjir rob tidak hanya menggenangi wilayah Pelabuhan saja, namun terjadi juga di beberapa tempat lainnya di Semarang, Pekalongan, Demak hingga Pati serta Rembang.

"Walikota Pekalongan menyebut bahwa wilayahnya terkena banjir rob terparah. Selang beberapa waktu, hasil investigasi penyebab banjir rob bermunculan di media, diantaranya hasil dari BMKG, BRIN, BNPB dan Walhi Jateng," Heri dalam keterangannya kepada Media Indonesia Senin (30/5).

Baca juga: Pemerintah Diminta Transparan Soal Gaji Saat Seleksi CPNS

Baca juga: Waspada Banjir Rob, Anomali Cuaca Harus Terus Dipantau

Menurutnya Stasiun Meteorologi Maritim Semarang mengungkapkan penyebab banjir rob 23 Mei 2022 adalah faktor astronomis adanya fenomena perigee atau jarak terdekat bumi dengan bulan.

"Sementara itu BRIN mengungkap bahwa faktor astronomis bukanlah penyebab dominan terjadinya banjir rob di Pantura. Di satu sisi BNPB dikutip dari menyatakan banjir rob terjadi akibat adanya siklus tahunan yang lebih tinggi," ujarnya.

Lain hal-nya dengan Walhi Jateng yang menyatakan pemindahan kawasan mangrove memicu bencana alam dimana salah satunya banjir rob yang terjadi di pesisir Pantura di 23 mei 2022 yang lalu.

"Mungkin tidak banyak yang menyadari atau bahkan mungkin hanya satu dua orang saja yang menyadari bahwa hasil investigasi penyebab banjir rob Pantura ini ternyata berbeda-beda," paparnya.

Dengan kata lain terjadi polemik. Kepala Lembaga Riset Kebencanaan IA-ITB itu menilai polemik ini cukup memprihatinkan karena dasar dari pengurangan risiko suatu bencana melalui upaya prevensi mitigasi dan atau adaptasi harus berbasis investigasi faktor penyebab yang tepat.

"Jika hasilnya berbeda-beda dimungkinkan upaya pengurangan risiko-nya menjadi salah kaprah. Sebagai contoh kalau kita lihat di lapangan, Pemerintah telah membangun tanggul namun ternyata banjir rob masih kerap terjadi karena air melimpasi tanggul atau air menjebol tanggul. Ini pastinya buah investigasi yang belum sempurna," lanjutnya.

Heri menambahkan bahwa polemik yang terjadi mencerminkan masih lemahnya Negara dalam memahami bencana. Lebih jauh dia mencatat bahwa terkait dengan bencana banjir rob di Pantura ini, upaya pengurangan risiko bencananya belum ditunjang regulasi yang cukup, sehingga akan berdampak ke kelembagaan, program hingga anggaran.

"Bencana banjir rob belum secara tegas masuk ke dalam kategori bencana dalam Undang-Undang Kebencanaan. Hal ini menyulitkan Pemerintah Pusat hingga Daerah dalam membuat program yang komprehensif termasuk menentukan leading sector-nya," terangnya.

Kondisi ini pasti akan menjadikan bencana hanya dilihat secara parsial, dari sudut pandang yang berbeda-beda, yang buktinya dapat dilihat dari polemik yang terjadi yang diungkap di atas.

"Mudah-mudahan Pemerintah dapat membaca situasi ini dan mengambil langkah-langkah yang tepat," tuturnya.

Dari hasil kajian Lembaga Riset Kebencanaan IA-ITB bekerjasama dengan Laboratorium Geodesi ITB menemukan bahwa banjir rob di Pantura pada 23 Mei 2022 sangat erat kaitannya dengan penurunan tanah atau land subsidence.

"Banjir rob juga diperparah oleh terjadinya gelombang tinggi dan jebolnya tanggul di beberapa tempat. Laju atau kecepatan penurunan tanah di Semarang, Pekalongan dan Demak saat ini ada yang mencapai 10 hingga 20 sentimeter per tahun," ujarnya.

Dia menegaskan, ini merupakan laju tercepat yang tercatat di dunia. Sayangnya penurunan tanah ini terlihat masih diabaikan dalam analisis pengurangan risiko banjir rob di Pantura. Dari catatan Pemerintah seperti melalui BMKG, BRIN, BNPB hingga catatan Walhi Jateng tidak ada satu pun yang menyinggung penurunan tanah sebagai faktor terpenting yang harus diperhatikan.

"Padahal jika penurunan tanah terus terjadi dengan laju yang mengkhawatirkan, maka banjir rob bukan tidak mungkin akan semakin parah kedepannya," pungkasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT