30 May 2022, 09:22 WIB

Waspada Banjir Rob, Anomali Cuaca Harus Terus Dipantau


Faustinus Nua | Humaniora

ANTARA/AJI STYAWAN
 ANTARA/AJI STYAWAN
Karyawan kawasan industri pelabuhan naik truk trailer menerobos banjir rob di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah, Jumat(27/5/2022)

FENOMENA laut pasang hingga berdampak terjadinya banjir rob di sejumlah daerah pesisir belakangan menjadi perhatian serius. Genangan rob di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang hingga perbatasan pesisir Sayung, Demak dan juga di pesisir Pekalongan beberapa waktu lalu merupakan fenemona laut pasang yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Peneliti Ahli Utama Bidang Oseanografi Terapan, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Widodo S. Pranowo mengungkapkan anomali cuaca akibat perubahan iklim sulit untuk diprediksi. Hal itu memperparah potensi bencana seperti rob yang sebenarnya dipengaruhi peralihan angin monsun.

Baca jugaGaya Hidup Sehat akan Kurangi Risiko Penyakit Jantung di Usia Senja

Baca juga: Model Pembelajaran Berbasis TIK makin Mudah Diaplikasikan

"Angin monsun kalau normal sebenarnya gak tinggi-tinggi amat. Cuman karena perubahan iklim anginnya menjadi tidak biasa, sulit diprediksi karena cuaca ekstrim harus dipantau menggunakan satelit supaya bisa melihat lebih luas. Jadi kalau ada anomali di sekitar Indonesia itu bisa memberikan peringatan dini," ujarnya kepada Media Indonesia, Senin (30/5).

Dijelaskanya, Laut Jawa memiliki karakter yang cukup unik, yakni sangat dipengaruhi oleh angin monsun. Bulan Mei adalah masa akhir dari peralihan dari angin monsun barat yang bergerak dari barat menuju ke timur menjadi angin monsun timur yang bergerak dari timur menuju ke barat.

"Kondisi hembusan angin tersebut berpeluang menyeret elevasi muka laut di Laut Jawa di bagian timur yang diseret menuju ke barat," terangnya.

Menurutnya, ketika mengamati kondisi elevasi muka laut yang murni hanya dibangkitkan oleh gaya pasang surut akibat gaya tarik rembulan dan matahari, maka elevasi muka laut tertinggi sebenarnya terjadi pada tanggal 19 Mei 2022. Sedangkan pada tanggal 23 Mei 2022 ketika terjadi rob di pesisir utara Jawa, elevasi muka laut karena pasang surut justru lebih rendah.

"Yang menarik adalah ketika dilakukan analisis secara kopling, yakni dugaan adanya akumulasi atau penumpukan elevasi muka laut akibat seretan angin dan gaya pasang surut, maka elevasi paling tinggi justru terjadi sekitar tanggal 23 Mei 2022, baik di stasiun pengamatan di Semarang dan Pekalongan maupun di Rembang," tuturnya.

Gradien elevasi muka laut pada tanggal 23 Mei 2022 tersebutlah yang diduga memiliki peluang menciptakan debit aliran yang banyak dan kuat dari arah laut menuju ke darat. Debit aliran massa air ini, ada yang overtopping atau melimpas/mengalir membanjiri darat melewati bagian atas tanggul, dan ada juga yang alirannya menjebol tanggul.

Widodo menambahkan, terkait jebolnya tanggul juga dipengaruhi penurunan permukaan tanah. Sebab, tanah di pesisir Semarang merubakan tumpukan sedimentasi yang kemungkinan belum cukup keras.

Fenomena pasang harus terus dipantau dengan memperhatikan dampak perubahan iklim seperti cuaca ekstrem. Mengingat, pasang surut permukaan laut bisa berpotensi bencana karena dipengaruhi angin kencang dan hujan

BERITA TERKAIT