27 May 2022, 15:48 WIB

Pakar: Benahi Tata Ruang untuk Cegah Banjir Rob Berulang


Atalya Puspa | Humaniora

Antara
 Antara
Sejumlah anak berjalan melewati banjir rob di wilayah Pekalongan, Jawa Tengah.

SELURUH wilayah kabupaten/kota di sepanjang pesisir Pantai Utara, Jawa Tengah, dilanda banjir rob dan gelombang pasang sejak Senin (23/5) lalu. Wilayah tersebut memang rawan dilanda banjir rob sejak lama.

Ahli geomorfologi pesisir dan laut dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Bachtiar W. Mutaqin, menyebut kejadian banjir rob sebagai dampak global warming, yang menyebabkan naiknya permukaan air laut dan material tanah.

"Karakteristik fisik utara Jawa yang landai, dengan material dominan hasil proses sungai (alluvial) yang berusia muda, sehingga masih mudah terganggu," jelas Bachtiar saat dihubungi, Jumat (27/5).

Baca juga: Banjir Rob Landa Sepanjang Pesisir Pantura dan Jawa Tengah

"Ditambah dengan banyaknya permukiman. Bukan hanya perorangan, namun juga skala industri yang menggunakan air tanah," imbuhnya.

Untuk mencegah berulangnya kejadian banjir rob, dirinya menilai perlu ada perhatian pada tata ruang. Termasuk, pengaturan untuk penggunaan lahan di pesisir, agar tidak terlalu masif.

"Upaya mitigasi struktural. Contohnya, membangun tanggul laut, menyiapkan sumur pompa, sistem polder, meninggikan bangunan atau infrastruktur penting di pesisir," papar Bachtiar.

Baca juga: Singgung Giant Sea Wall, Pemerintah Diminta Serius Tangani Rob Semarang

Selain itu, diperlukan upaya mitigasi nonstruktural. Seperti, penataan ruang pesisir, pelestarian sabuk pantai alami, hingga pembatasan penggunaan air tanah dalam jumlah besar.

“Kita berharap ada semacam moratorium atau peraturan, yang melarang penggunaan air tanah di skala industri," tukasnya.

Hal penting lainnya ialah pemerintah harus serius menerapkan aksi adaptasi perubahan iklim. Lalu, perluas edukasi masyarakat soal banjir rob. Masyarakat harus memahami bahwa kondisi saat ini menjadikan mereka mau tidak mau beradaptasi.(OL-11)
 

BERITA TERKAIT