22 May 2022, 06:30 WIB

Risiko Hipertensi Meningkat Seiring Bertambahnya Usia


Basuki Eka Purnama | Humaniora

ANTARA/Ahmad Subaidi
 ANTARA/Ahmad Subaidi
Seorang tenaga kesehatan TNI memeriksa tekanan darah seorang warga.

WAKIL Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH) Eka Harmeiwaty mengatakan risiko hipertensi akan meningkat tajam seiring dengan bertambahnya usia. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah mulai usia 18 tahun.

Peningkatan itu terjadi ketika seseorang laki-laki atau perempuan mulai menginjak usia 46 tahun. Pemeriksaan tekanan darah secara regular disarankan dimulai pada usia 18 tahun, terutama yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi atau penyakit kardiovaskular.

"Pasien diabetes berisiko mengalami hipertensi sehingga dengan demikian harus dilakukan pemeriksaan darah berkala untuk mendeteksi adanya hipertensi," ujar Eka dalam webinar World Hypertension Day (WHD) 2022, dikutip Minggu (22/5).

Baca juga: Tidak Patuh Minum Obat Sebabkan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Naik

Selain pengukuran tekanan darah di fasilitas kesehatan, pemeriksaan juga dapat dilakukan secara mandiri di rumah atau di komunitas tertentu yang dikenal dengan Home Blood Pressure Monitoring (HBPM) atau disebut dengan Pengukuran Tekanan Darah di Rumah (PTDR).

Dengan melakukan pengukuran yang benar dan akurat, akan didapatkan hasil yang tepat. PTDR sangat membantu mendeteksi hipertensi jas putih, yaitu peningkatan tekanan darah saat diukur di klinik atau RS namun saat dilakukan pengukuran di luar klinik didapatkan tekanan darah normal.

"PTDR juga dapat digunakan untuk memonitor hasil pengobatan. Selain itu, melakukan pengukuran mandiri membuat pasien menjadi lebih patuh dalam pengobatan," jelasnya.

Hipertensi merupakan masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia. Survei yang dilakukan InaSH bekerja sama dengan Kementrian Kesehatan RI pada 2018 menunjukkan dari sampel 68.846 orang dengan rentang usia rata-rata 45 hingga kurang lebih 16,3 tahun ditemukan bahwa 27.331 orang (30,8%) mengidap hipertensi.

Angka ini lebih rendah dari survei 2017 yaitu 34,5%, hal itu disebabkan pada survei 2018 terdapat 18,6% partisipan berusia 18-29 tahun.

Dalam kelompok hipertensi hanya 13.018 (47,6%) yang menyadari adanya hipertensi dan hanya 47,4% yang mengonsumsi obat antihipertensi. Survei juga menunjukkan target pengobatan tidak tercapai pada 10.106 pasien (78,0%).

Dengan kondisi tersebut, tidak heran jika di Indonesia angka insiden penyakit jantung koroner, stroke, dan gagal ginjal masih tinggi.

Eka mengemukan hipertensi dapat dicegah walaupun faktor genetik dan usia sulit untuk dimodifikasi. Namun, banyak faktor risiko lain yang dapat dihindari agar tidak terjadi hipertensi yakni dengan menanamkan pola hidup sehat sejak usia dini yang dilakukan dalam keluarga dan melalui edukasi di sekolah.

Hal ini lebih mudah dibandingkan menyarankan perubahan gaya hidup bagi orang dewasa. Orangtua dan guru juga mempunyai peranan penting dalam menanamkan pola hidup sehat pada anak-anak yang akan terus diingat dalam memorinya hingga mereka dewasa.

"Mengurangi paparan terhadap polusi udara juga merupakan upaya pencegahan terhadap hipertensi, selain mengatasi stresor dan tidur yang cukup," pungkas Eka. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT